Friday, February 27, 2015

AKSI KONYOL YANG BERHASIL MERAUP MILIARAN RUPIAH




Hanya dengan merekam aksi konyol dan mengunggah video tersebut ke YouTube, dua pria asal Amerika Serikat, Ian Hecox dan Anthony Padilla berhasil mendulang banyak uang. Dua pria berusia 27 tahun in mulai bergabung dengan YouTube sejak 2005.
Sejak itu, setiap tahun keduanya mampu menghasilkan uang hingga US$ 4 juta atau Rp 51,81 miliar dari YouTube. Beberapa videonya memang menggunakan judul yang menarik seperti `If romantic movies were real` dan `The truth behind emojis`. (kurs: Rp 12.945/US$)
Saat ditanya apa kunci sukses mencari uang di YouTube, keduanya justru menimpali dengan jenaka. Hecox menjawab, kunci sukses kami dengan cara mengikuti jejak Mark Zuckerberg, minus Harvard University.
Begitulah keduanya menjalani kehidupan dengan menyenangkan tentu saja dengan jutaan fans dan puluhan miliar uang yang diraih. Berikut ulasan singkat mengenai petualangan keduanya mencetak uang di YouTube seperti dikutip dari USA Today, Business Insider, Fox News dan sejumlah sumber lain, Jumat (27/2/2015):
Smosh
Smosh merupakan dua komedian berusia 27 tahun bernama Ian Hecox dan Anthony Padilla. Smosh merupakan salah satu pencipta video sensasional di YouTube karena memulai karirnya sejak 2005.
Keduanya populer lantaran berbagai video komedinya dalam melakukan parodi video games dan budaya-budaya lokal yang tengah tren. Hingga saat ini, keduanya tak menunjukkan tanda-tanda perlambatan bisnis, dan terus membukan banyak channel serta membuat aplikasi khusus untuk mengakses video mereka.
Kini , keduanya telah memiliki delapan channel YouTube yang memproduksi konten dengan jumah subscriber dan fans yang meroket. Kedelapan channel tersebut diantaranya, Smosh, IanH, WatchUsLiveAndStuff, ElSmosh, dan SmoshGames.
Keduanya juga kini tengah membahas kontrak untuk membintangi acara komedi di televisi.
Pendapatan Smosh
Hecox dan Padilla tentu sudah menjadi sosok yang sangat sukses mengingat pendapatannya yang sangat tinggi. Kedua pria yang hobi membuat video komedi itu kini mampu mencetak uang sekitar US$ 448 ribu hingga US$ 4,5 juta per tahun.
Itu merupakan pendapatan bersih setelah dipotong 45 persen untuk YouTube. Kini keduanya memiliki 27,71 juta subscriber yang terus bertambah.
Soal berapa kali video mereka telah ditonton, tak usah ditanya lagi mengingat, videonya telah menyedot 4,6 miliar klik dari berbagai negara. Setiap hari, dua sahabat ini tampak bersemangat menciptakan video baru.
Lebih suka YouTube daripada masuk TV
Video pertama yang diunggah keduanya langsung menyedot 3,5 juta penonton. Saat itu, mereka mengunggah video yang membahas pikachu sebagai binatang peliharaan.
Setelah mendapatkan 6,9 juta subscriber, keduanya berhak mendapatkan golden ticket ke Hollywood di mana para agensi dan produsen film membuka peluang besar bagi mereka yang berbakat. Sayangnya, mereka berdua lebih suka tampil di YouTube dibandingkan beradu akting di acara TV.
Menurut keduanya, orang-orang lebih suka mengakses internet daripada nonton TV saat ini. Apalagi mengingat keduanya telah mencetak banyak uang lewat YouTube. Dengan tegas, keduanya mengatakan, tak akan meninggalkan internet dan setia tampil di YouTube. (Sis/Ndw)

Thursday, February 26, 2015

Apakah Sebenarnya yang Diinginkan Orang Kaya selain Uang






Lagi-lagi uang yang berlimpah tak menjamin Anda bahagia. Bahkan setelah memiliki harta melimpah, banyak orang merasa masih belum cukup dan menginginkan hal lain selain ulang.
Beberapa miliarder juga merasa uang tak bisa menjamin kesehatan atau memberikan persahabatan yang erat. Tapi memang tentu saja, masih banyak miliarder yang bahagia di luar sana.
Lantas apa lagi yang dinginkan para miliarder selain uang banyak yang telah dimilikinya? Berikut 5 hal yang didambakan miliarder selain uang seperti dikutip dari Lifehack.org, Kamis (26/2/2015):
1. Berkomunikasi normal
Karl Rabeder pernah menjadi miliarder tapi dia menyumbangkan seluruh hartanya karena merasa tak bahagia. Dia menjual segalanya dan menyumbangkannya, lalu memutuskan tinggal di Austria.
Rabeder mengambil keputusan tersebut karena merasa gaya hidupnya yang terlalu tinggi salah dan sulit baginya untuk berhubungan dengan masyarakat sungguhan. Kini dia merasa lebih bahagia.
2. Kebahagiaan
Salah satu miliarder di Australia pernah memiliki banyak uang seperti yang selalu diimpikannya. Tapi saat itu tercapai, dia malah merasa tidak bahagia.


Dia jadi bosan dengan mimpinya, hubungan dengan orang terdekat, dan malas melakukan hobinya. Kini setelah dia hidup sederhana, dia merasa lebih bahagia dan memiliki hubungan harmonis dengan seluruh keluarga.
3. Privasi
Juan Rodriguez menyesal pernah menang lotre karena dia menjadi incaran orang-orang yang ingin meminjam uang darinya. Dia tak bisa menikmati privasi ketika dia pergi keluar dan hidupnya sangat membosankan karena ia hanya ditemani beberapa ekor anjing bahkan dia tak lagi percaya pada keluarganya.
Konsultan keuangan mengatakan bahwa dengan kekayaan mendadak, kehidupan pemenangnya dengan mudah menjadi kacau.
4. Kepercayaan pada orang lain
Orang kaya memiliki banyak hal yang membuatnya khawatir. Mereka selalu khawatir dan cemas tentang siapa yang bisa dipercaya.
Sulit sekali baginya untuk mempercayai orang lain karena takut kekayaannya habis dimanfaatkan. Mereka juga takut anak-anaknya tak harmonis karena uang yang dimiliki.
5. Keamanan diri
Banyak miliarder harus melindungi diri dan kekayaanya dengan susah payah. Setiap hari, ada ketakutan dan kecemasan mengalami perampokan, kekerasan, hingga tindakan pencurian. Seorang wanita yang kaya raya karena menang lotre harus bersembunyi lantaran takut. (Sis/Ahm)/MSN

Tuesday, February 24, 2015

Eka si petani bebek yang jadi Jutawan berkat Google Adsense





Meski hanya lulusan SMPN 2 Karangpandan Karanganyar, Eka Lesmana (25) mampu meraup ratusan juta rupiah per bulan hanya dengan duduk di depan komputer jinjing sebagai Internet Marketing (IM) lewat Google Adsense (GA).
Untuk mendapatkan 10.000 dolar atau sekitar Rp120 juta per bulan bukan perkara mudah bagi Eka. Butuh ketekunan dan kerja keras.
Pemuda asal Karanganyar ini secara blak-blakan menceritakan kisah suksesnya kepada Tribun Jateng, pekan lalu.
Motivasi menjadi seorang IM atau publisher GA lantaran dirinya terdesak dengan keadaan.

Setelah lulus SMP sekitar 2011, Eka sempat disuruh angon bebek di tempat pamannya. Namun setiap angon bebek, ada bebek milik pamannya yang hilang. Eka kemudian memutuskan bekerja di sebuah pabrik ragi milik budhenya di Solo. Banting tulang di pabrik ragi, Eka hanya mendapatkan upah Rp450 ribu per bulan.
Setahun bekerja di Solo, Eka selanjutnya pindah kerja di Yogyakarta di distributor sprei dengan gaji Rp1,3 juta. Sekitar tiga bulan bekerja, Eka menemui setiap pelanggan toko yang tiap belanja selalu ambil banyak barang. "Mbak punya toko ya? Kok belanjanya selalu banyak?," tanya Eka.
"Iya. Tapi saya lebih banyak jual lewat toko online," jawab pelanggan toko. Dari obrolan tersebut, Eka mengenal dunia internet terutama toko online. " Tiap pukul 19.00-23.00, saya selalu di warnet browsing belajar toko online. Saya belajar sekitar tiga bulan. Lumayan juga tiap hari habis Rp10 ribu untuk ke warnet," ujarnya.
Boros uang karena sering ke warnet, Eka kemudian utang laptop ke majikannya. Kemudian, dari penghasilan bersih Rp750 ribu, Eka menyisihkan Rp300 ribu untuk membeli hosting dan domain toko onlinenya. Template yang terpasang pun template gratis. Barang yang dijual yakni sprei dari toko majikannya.
Setelah diluncurkan beberapa bulan, hasilnya di luar prediksi. Belum ada satupun barang yang terjual. Apalagi Eka kena teguran majikan karena menjual sprei lewat toko online. "Saya dibilang harus fokus ke kerjaan. Jangan nyambi. Padahal niat awal saya juga membantu majikan saya menjualkan barang dagangan. Saya kemudian berhenti," ujarnya.
Suatu ketika, seseorang menghampiri Eka ketika sedang browsing internet di toko. Orang tersebut bilang ngeblog bisa menghasilkan uang lewat GA. "Orang itu sudah bisa dapat Rp50 juta-Rp100 juta," kata Eka. Eka kemudian mendalami dunia GA, dan mendaftarkan toko onlinenya ke GA dan diterima. Setelah setahun, Eka sudah bisa merasakan hasilnya. Per bulan Eka bisa memperoleh hingga USD 300 atau sekitar Rp3,6 juta.
Pada 2013, Eka fokus ngeblog dengan membuat artikel yang disukai pasar di antaranya tentang gadget atau rumah. "Tema yang saya buat sesuai pasar dan sifatnya abadi (feature). Mau dibaca beberapa tahun kemudian tetap tidak basi," ujarnya.
Eka tidak hanya membuat satu blog, namun hingga 15 blog. Hasilnya terus menanjak hingga mendapatkan USD 100-200 per hari. "Saya bisa dapat USD 2.300 per bulan. Saya sempat batin, kok gampang sekali cari uang di blog saya yang isinya cuma copas (copy paste). Namun di akhir 2013 saya kena banned. Mungkin saking serakahnya," ujarnya sembari tersenyum.
Namun hal tersebut tidak membuat Eka patah arang. Eka bangkit di tahun 2014 dan dari 15 blog yang dia kelola, Eka bisa mendapatkan Rp120 juta per bulan.
"Sempat putus sama pacar, penghasilan turun sampai USD 5.000. Jadi males ngisi artikel,he..he. Blog kalau tidak sering diupdate jadi semakin tidak banyak ditemukan. Sekarang sih sekitar USD 4.000-5.000 per bulan," ujar pria yang baru melepas lajang.

Thursday, February 12, 2015

PEMUDA 20 TH,SUKSES BISNIS CAMILAN RUMPUT LAUT





SLEMAN - Tak perlu menunggu waktu bila akan memulai usaha, hal itu yang dilakukan Hendi Avanda (20), di usianya yang terbilang muda, dia berhasil mengembangkan Usaha Kecil mandiri (UKM) dengan memproduksi makanan ringan dari rumput laut.

Tribun Jogja/Santo Arie Hendi Avanda (20), di usianya yang terbilang muda, dia berhasil mengembangkan Usaha Kecil mandiri (UKM) dengan memproduksi makanan ringan dari rumput laut. Usahanya pun terbilang sukses, dengan mengusung merk "Panda Rumput Laut" dia sudah berhasil menjual produknya ke 120 toko yang tersebar di seluruh Indonesia.

Diceritakan Hendi, dirinya memulai usaha tersebut saat dia mendapatkan buah tangan dari temannya dari Korea berupa makanan berbahan rumput laut pada akhir tahun 2011. Dari sana dia terinspirasi dan bertekad untuk membuat makanan serupa dari bahan yang sama.

Diakuinya bahwa dia belajar bisnis secara otodidiak. Bahkan sebelum memulai usaha rumput lautnya, sebelumnya dia sempat menggeluti usaha lainnya. Jatuh bangun dia rasakan saat dia berjualan ketan duren hingga berjualan aksesoris komputer.

"Dari kegagalan itu, saya belajar dan mulai mengembangkan produk rumput laut," jelas mahasiswa semester akhir Manajemen Pendidikan ini.

Dalam mewujudkan usahanya tersebut, Hendi mulai mencari bahan baku yang cocok yakni rumput laut jenis Porpira. Dengan modal pas-pasan ia nekat survei di beberapa pantai di Pulai Jawa. Mulai dari pantai di Gunungkidul, Kepulauan Seribu, Semarang, Jepara, Surabaya hingga Pacitan.

Dari eksplorasinya tersebut dia harus menerima kenyataan bahwa bahan dasar rumput laut jenis Porpira tak dapat ditemukannya.

Dia menjelaskan rumput laut jenis Porpira hanya dapat ditemui di Halmahera dan Nusa Tenggara Barat. Akhirnya untuk bahan baku, saat ini dirinya masih impor dari Korea

Berkat ketekunannya saat ini dia dapat mensuplai ke 28 toko di wilayah Yogya. Selain itu Hendi juga sudah berhasil memasarkan produknya hingga Batam, Bangka, Lampung, Malang, Jakarta, Bogor, Solo dan Magelang.

Dijelaskannya secara detil, satu bungkus produknya isi 20 gram dijual dengan harga Rp 12 ribu. Dibantu 6 karyawannya di rumah produksi Panda Rumput Laut, Perumahan Graha Palem Indah A10 Condongcatur, setiap hari ia bisa memproduksi 400 hingga 500 bungkus.

Panda Rumput Laut sendiri terdiri dari tiga varian rasa, original, barbeque dan spicy. Proses pembuatan makanan ini cukup sederhana yaitu dari rumput laut mentah dipanggang, digoreng baru kemudian diberi bumbu.

Rumput laut jenis Porpira lebih tebal dengan camilan rumput laut sejenis yang banyak di pasaran. (tribunjogja.com)