Showing posts with label Entrepreneur Cilik. Show all posts
Showing posts with label Entrepreneur Cilik. Show all posts

Thursday, February 12, 2015

PEMUDA 20 TH,SUKSES BISNIS CAMILAN RUMPUT LAUT





SLEMAN - Tak perlu menunggu waktu bila akan memulai usaha, hal itu yang dilakukan Hendi Avanda (20), di usianya yang terbilang muda, dia berhasil mengembangkan Usaha Kecil mandiri (UKM) dengan memproduksi makanan ringan dari rumput laut.

Tribun Jogja/Santo Arie Hendi Avanda (20), di usianya yang terbilang muda, dia berhasil mengembangkan Usaha Kecil mandiri (UKM) dengan memproduksi makanan ringan dari rumput laut. Usahanya pun terbilang sukses, dengan mengusung merk "Panda Rumput Laut" dia sudah berhasil menjual produknya ke 120 toko yang tersebar di seluruh Indonesia.

Diceritakan Hendi, dirinya memulai usaha tersebut saat dia mendapatkan buah tangan dari temannya dari Korea berupa makanan berbahan rumput laut pada akhir tahun 2011. Dari sana dia terinspirasi dan bertekad untuk membuat makanan serupa dari bahan yang sama.

Diakuinya bahwa dia belajar bisnis secara otodidiak. Bahkan sebelum memulai usaha rumput lautnya, sebelumnya dia sempat menggeluti usaha lainnya. Jatuh bangun dia rasakan saat dia berjualan ketan duren hingga berjualan aksesoris komputer.

"Dari kegagalan itu, saya belajar dan mulai mengembangkan produk rumput laut," jelas mahasiswa semester akhir Manajemen Pendidikan ini.

Dalam mewujudkan usahanya tersebut, Hendi mulai mencari bahan baku yang cocok yakni rumput laut jenis Porpira. Dengan modal pas-pasan ia nekat survei di beberapa pantai di Pulai Jawa. Mulai dari pantai di Gunungkidul, Kepulauan Seribu, Semarang, Jepara, Surabaya hingga Pacitan.

Dari eksplorasinya tersebut dia harus menerima kenyataan bahwa bahan dasar rumput laut jenis Porpira tak dapat ditemukannya.

Dia menjelaskan rumput laut jenis Porpira hanya dapat ditemui di Halmahera dan Nusa Tenggara Barat. Akhirnya untuk bahan baku, saat ini dirinya masih impor dari Korea

Berkat ketekunannya saat ini dia dapat mensuplai ke 28 toko di wilayah Yogya. Selain itu Hendi juga sudah berhasil memasarkan produknya hingga Batam, Bangka, Lampung, Malang, Jakarta, Bogor, Solo dan Magelang.

Dijelaskannya secara detil, satu bungkus produknya isi 20 gram dijual dengan harga Rp 12 ribu. Dibantu 6 karyawannya di rumah produksi Panda Rumput Laut, Perumahan Graha Palem Indah A10 Condongcatur, setiap hari ia bisa memproduksi 400 hingga 500 bungkus.

Panda Rumput Laut sendiri terdiri dari tiga varian rasa, original, barbeque dan spicy. Proses pembuatan makanan ini cukup sederhana yaitu dari rumput laut mentah dipanggang, digoreng baru kemudian diberi bumbu.

Rumput laut jenis Porpira lebih tebal dengan camilan rumput laut sejenis yang banyak di pasaran. (tribunjogja.com)

Monday, October 22, 2012

Bisnis Kontrakan Willow Tufano

Willow Tufano sekilas tampak seperti gadis remaja Amerika Serikat pada umumnya. Namun, ada beberapa hal istimewa yang membedakannya dari gadis remaja seusianya. Di usia baru menginjak 15 tahun, Tufano kini telah berencana membeli rumah keduanya.

"Saya telah membeli rumah pertama, dan akan membeli rumah kedua dalam waktu dekat," kata Tufano dalam sebuah wawancara dengan kantor berita CBS.

Bukan hanya sekedar bekerja paruh waktu. Tufano kini sudah menghasilkan uang dengan menjalankan bisnis penyewaan rumah di daerah North Port, Florida. Dengan kata lain, kini Turfano adalah seorang landlord atau pemilik kontrakan termuda di Florida.

Ketertarikan Tufano pada bisnis ini berawal dari pekerjaan ibunya sebagai seorang agen realestat. Sejak kecil, Tufano sering bepergian bersama ibunya dalam perjalanan bisnis. Dalam perjalanan bisnis tersebut, ia menyadari, pemilik rumah lama biasanya membuang banyak barang-barang yang sebenarnya masih bisa digunakan.

"Saya berkeliling bersama ibu saya dan melihat rumah-rumah ini. Salah satu rumah penuh dengan berbagai macam perabotan bagus. Saya bilang, saya bisa menjualnya," kata Tufano, menceritakan awal kariernya.

Dengan menjual perabotan, Tufano berhasil menggumpulkan 6.000 dollar AS. Uang itu kemudian ia gunakan untuk membantu pembayaran rumah seharga 12.000 dollar AS.

"Saya tengah mencoba mendapatkan rumah sebanyak mungkin selagi pasar sedang turun," katanya.

Tufano menjelaskan, saat ini targetnya adalah memiliki sekitar sepuluh rumah ketika berumur 18 tahun.

"Saya ingin mencoba membeli dua rumah setiap tahunnya," kata Tufano.

Tufano ini memang bukan gadis kecil biasa. Sampai saat ini, ia terus menghabiskan waktu senggangnya untuk mengumpulkan dan menjual barang-barang.

"Saya hanya mencoba dan menyimpan setiap receh yang bisa saya kumpulkan untuk membeli rumah lain," ujar Tufano.

Sebagai anak di bawah umur, Turfano saat ini belum dapat menandatangani akta tanahnya sendiri. Terpaksa Turfano meminta bantuan sang ibu, Shannon Moore. Namun, ketika Turfano menginjak usia 18 tahun, Moore telah berjanji akan menyerahkan semua surat-surat rumah kepada anaknya.

Pencapaian Turfano tergolong luar biasa, terutama untuk anak yang mengidap attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD). Ia sebelumnya meninggalkan sekolah luar biasa karena para guru mengatakan kepada sang ibu, bahwa anaknya tidak mampu fokus dalam pelajaran.

"Rasanya sedih mendengar orang lain mengatakan bahwa anak Anda punya masalah. Sekarang lihatlah dia. Saya benar-benar bangga padanya," kata Moore. (*/Kompas.com)

Sunday, August 26, 2012

Fauzan Efwandaputra CEO Foremost Indonesia



Anak muda selalu punya gaya. Soal selera, hanya anak muda pula yang memahaminya. Fauzan Efwandaputra, 23, menghimpun anak-anak muda lainnya untuk memproduksi benda keren impian mereka: sepatu kulit mahal handmade bergaya western berciri khas Indonesia.

Jalan-jalan di kawasan Jalan Trunojoyo, Bandung, adalah kegemaran Fauzan Efwan daputra sejak SMP. Efwan, sapaannya, paling doyan menghabiskan uang jajan di surganya distribution store alias distro di Kota Kembang itu.

”Waktu itu, ya kami suka ngabisin duit,” kata Efwan. Tak sekadar menghabiskan uang jajan, Efwan juga punya khayalan. Dia pengin punya distro dan memajang produk-produk fashion-nya sendiri. ”Biasalah, pengin ini pengin itu.”

Impian Efwan mulai menuju titik nyata ketika kuliah. Awal 2010, Efwan mulai menekuni bisnis fashion anak muda dengan cara coba-coba. Coba-coba bikin sepatu, dompet, hingga kaus. Partner bisnis juga masih coba-coba. Dengan si ini, dia cocok. Tetapi, kebanyakan tidak cocok. Hingga akhirnya pada pengujung 2010, Efwan mendirikan Foremost Indonesia. Dia berpartner dengan rekan sejawatnya, Yusuf Ramdhani. Keduanya menjadi pendiri sekaligus pemegang saham Foremost hingga kini.

Efwan memulai bisnis dengan memasarkan produk secara online. Dengan sistem pesan di muka, bisnisnya hampir tanpa modal. Cukup pasang foto contoh, ada order, uang masuk rekening, baru sepatu dibikin. Namun, akhirnya Efwan kewalahan dengan sistem itu. ”Pusing. Banyak yang rewel. Apalagi uang orang ada dikita, butuh kepastian, sedangkan kita lagi produksi,” kenang Efwan.

Akhirnya, dimulailah sistem ready stock. Produk yang dijajakan juga mulai fokus ke sepatu kulit. Eksplorasi produk mulai ditekuni sehingga menjadi suatu ciri. Foremost memilih bahan kulit sapi kualitas terbaik, dibuat secara handmade untuk menjamin jahitan yang rapi. Ada tambahan spons insole sehingga memberi kenyamanan ekstra. Outsole dibikin dengan original sole berbahan dasar karet matang.

Soal gaya, kata Fauzan, Foremost memang memilih gaya western yang digemari anak muda. Namun, ciri khas keindonesiaan tetap ingin ditonjolkan. Original sole Foremost bergambar peta pulau Nusantara dan tulisan aksara Sunda yang berarti ”Kebanggaan Indonesia”. Seperti namanya, Fauzan ingin menjadikan Foremost sebagai merek terkemuka dari Indonesia. Tak Masalah Modal Cekak

Modal kerap menjadi masalah bagi yang ingin merintis bisnis. Namun, itu tak berlaku bagi Efwan. Baginya, tekad kuat untuk memulai berusaha adalah hal terpenting untuk membangun usaha. Ketika memulai dengan sistem pre-order, modal yang dipakai juga tidak banyak. ”Orang bilang kalau pre-order itu modal parkir doang,” katanya.

Setelah diharuskan menggunakan sistem ready stock, Fauzan juga mengaku tidak bermodal banyak. ”Yang penting cukup buat modal kerja dulu,” tambahnya.

Menurut Efwan, masalah penting yang kerap menimpa pebisnis pemula adalah keilmuan yang masih terbatas. Misalnya, pengetahuan mengenai pengelolaan manajemen dan keuangan. ”Akhirnya, saya banyak konsultasi manajemen dengan teman-teman yang lain. Juga belajar merancang laporan keuangan. Itu sangat berguna.”

Untuk pemasaran, Foremost bermain di zona market horizontal. ”Kalau ini tidak terlalu bermasalah asal tak bodoh banget tentang Facebook dan Twitter,” katanya. Setelah sukses bermain di online, dukungan lini offline mulai dibangun. Titik-titik distribusi mulai diseleksi dan dieksekusi.

Sebagaimana merek-merek baru lain yang sedang nge-tren, Foremost juga sangat mengandalkan curated market atau pasar terkurasi. Ajang pameran yang menyeleksi merek-merek terpilih tersebut semakin menguatkan image merek Foremost di mata pencinta sepatu kulit. Ajang curated market yang nge-top adalah Trademark dan Brightspot.

Foremost sudah merilis belasan model. Segmen yang dipilih adalah rentang usia 18–25 tahun alias segmen anak muda menengah ke atas. Foremost dilepas ke pasar dengan harga yang cukup premium, yakni Rp 515 ribu hingga Rp 900 ribuan.



Dalam pemasaran, ada tiga segmen yang menjanjikan market yang menggiurkan. Selain anak muda, ada perempuan dan netizen atau orang tua yang ingin tetap bergaya masa kini. Namun, Efwan beserta timnya memutuskan untuk fokus di segmen anak muda, khususnya cowok. Putusan tersebut diambil lebih karena pemahaman akan selera pasar. Dengan tim yang semuanya cowok, Efwan belum berani menyasar ke segmen perempuan. ”Kalau cowok seumuran ini, kitalah yang paling mendalami. Tapi, kalau cewek, takutnya ngeblur,” katanya. ”Prinsipnya, apa yang kita mau, kita tahu. Yang kita ciptakan adalah yang benar-benar kita butuhkan,” imbuhnya.

Diversifikasi produk juga mulai digarap dengan merilis produk sampingan seperti dompet dan kaus. Foremost juga membangun merek sekunder dengan menyasar segmen harga menengah ke bawah dengan mengusung merek Mc Marker yang baru dirilis pada Maret. Sambutannya cukup meriah.

Dengan harga murah meriah, rata-rata penjualan Mc Marker per bulan bisa menembus 300 pasang. Sementara itu, Foremost masih sangat musiman. Menjelang akhir tahun, Foremost bisa terjual 200 pasang sebulan.

Mc Marker awalnya dibuat sebagai bantalan bisnis agar bisa memutar modal. Namun, karena sambutannya cukup baik, merek sepatu dengan harga berkisar Rp 120 ribu hingga Rp 300 ribu tersebut juga diseriusi. ”Kalau Foremost seperti menjual Mercy, Mc Marker seperti jual Avanza,” katanya.

Thursday, August 16, 2012

Paul Dunahoo, Bocah Belia yang Jadi Developer Apple


Usia entrepreneur makin hari makin belia saja tampaknya. Setelah ada entrepreneur muda yang berusia di bawah 10 tahun, kini ada Paul Dunahoo, seorang developer aplikasi untuk Apple yang usianya baru menginjak 13 tahun.

Dunahoo menjadi salah satu pusat perhatian dalam sesi teknis di konferensi pengembang Apple Inc. yang diselenggarakan pekan lalu. Remaja yang bersekolah di Connecticut ini terlihat sibuk berjejaring dengan programmer lainnya dan dengan senang hati mendapatkan masukan berharga dari mereka yang lebih tua darinya: para insinyur Apple. Donahue mengerjakan 67 aplikasi produktivitas dan para insinyur Apple memberikannya banyak saran untuk menyempurnakan karyanya itu.

Dunahoo yang baru bersiap masuk kelas 8 ini tak hanya seorang developer aplikasi biasa. Ia juga tercatat sebagai Chief Executive Officer dari perusahaan Bread and Butter Software LLC.

“Ini merupakan sebuah peluang yang sangat langka,” kata Dunahoo saat ditanya mengenai konferensi yang diadakan Apple tersebut.

Jika dicermati, terjadi kenaikan jumlah remaja yang bergabung dalam demam pembuatan aplikasi seperti ini. Dan Apple sebagai pemimpin industri aplikasi tak begitu saja melepaskan potensi yang belum tergarap maksimal tersebut.

Dunahoo ialah salah satu dari sekian banyak remaja yang makin menggemari pembuatan aplikasi untuk Apple. Tahun ini saja Apple membuka sebuah event untuk pengembangnya dengan jangkauan usia yang lebih muda, dari 13 sampai 17 tahun. Sebanyak 150 orang developer muda dihadirkan dalam event ini.

“Kami dulu berpendapat bahwa mengundang siswa-siswa remaja adalah langkah yang tepat,” kata petinggi pemasaran Apple, Phil Schiller, dalam sebuah wawancara pekan lalu. Namun, ia mengatakan bahwa software iPhone dan iPad juga menarik bagi kelompok pengembang yang berusia lebih muda dari 18 tahun.

Monday, August 13, 2012

Mallory Kievman, Penemu Permen Penghenti Cegukan

kievman0512
Setiap orang pernah merasakan cegukan, namun banyak orang yang masih bertanya-tanya bagaimana cara menghentikannya dalam sekejap. Remaja 13 tahun ini memberi solusi unik untuk menyembuhkan cegukan, yaitu dengan permen lollipop.

Pembuatan permen ini bermula saat Mallory Kievman mengalami cegukan musim panas 2010. Saat itu, Kievman mencoba berbagai cara untuk menghentikannya, mulai dari menenggak air garam, dikejutkan oleh temannya, menelan sesendok gula, sampai minum air sambil jungkir balik, semuanya tidak berhasil.

Gemas karena tak juga menemukan cara untuk menghentikan cegukan, Kievman melakukan eksperimen selama dua tahun hingga akhirnya terciptalah Hiccupops.

Seperti diberitakan Oddity Central, Hiccupops lahir di dapur rumahnya sendiri di Connecticut, AS. Kievman mencampurkan permen lollipop, cuka apel, dan gula, hingga menghasilkan Hiccupops, yang diambil dari kata hiccup dan lollipop.

“Permen ini mengaktifkan syaraf-syaraf di tenggorokan dan mulut, sehingga membentuk busur saat kita cegukan. Hiccupops merangsang syaraf-syaraf itu dan menghentikan proses cegukan,” paparnya.

Setelah serangkaian eksperimen, Hiccupops pun diperkenalkan di sebuah konvensi anak. Di sanalah Kievman bertemu Danny Briere, pendiri Startup Connecticut yang kemudian membantu Kievman untuk mendirikan perusahaan sendiri.

Kini Kievman tengah merintis perusahaannya sendiri dengan dibantu tim konsultan dari University of Connecticut. Hiccupops segera diluncurkan secara resmi musim panas ini. (*/AS)

Sunday, August 12, 2012

Kisah Sukses Entrepreneur Cilik dari LA



Makin banyak entrepreneur muda yang bermunculan akhir-akhir ini. Dan satu lagi yang muncul menjadi buah bibir ialah seorang bocah berusia 9 tahun bernama Caine Monroy. Caine tinggal di Lost Angeles Utara yang dianggap bocah luar biasa karena keuletannya mendirikan toko kertas karton buatan rumah.

Meski terdengar sederhana, apa yang dilakukan oleh Caine dengan mendirikan Caine’s Arcade dalam toko suku cadang ayahnya ini membuatnya terkenal, dan membuatnya mendapatkan dana beasiswa dan ketenaran di dunia maya.

Caine membangun toko dari kertas karton dalam toko sang ayah sebagai cara untuk melewatkan waktu liburan saat musim panas. Hasilnya sangat detil dan terencana dengan baik. Saat pelanggan Nirvan Mullick kebetulan mengunjunginya satu hari dan ia terinspirasi untuk membantu Caine mendapatkan apresiasi yang pantas ia dapatkan. Untuk itu, Nirvan menggunakan facebook dan Internet sebagai alat untuk menggerakkan sekelompok orang untuk mengunjungi bisnis si entrepreneur cilik itu.


Tak hanya itu, tetapi uang sebanyak 60 ribu dollar berhasil dikumpulkan untuk dana beasiswa Caine dalam waktu sehari saja sejak dipublikasikannya video dari Nirvan. Seminggu kemudian, yayasan Goldhirsh menawarkan pendanaan awal sebesar 250 ribu dollar AS untuk membantu Arcade Foundation milik Caine dengan tujuan membantu anak-anak yang memiliki ide inovatif.
Bisnis milik Caine mungkin bukan sukses yang berskala fenomenal tetapi bisa menjadi bukti awal kekuatan passion, kreativitas dan kegigihan di usia belia.

Saturday, August 11, 2012

Caine Monroy, Entrepreneur Belia dari Los Angeles

Bila Anda merintis usaha sejak sembilan tahun, akan sekaya apakah Anda sekarang? Itu terdengar mustahil. Tapi itulah yang ditepis Caine Monroy, seorang bocah berusia belia di California, Los Angeles, Amerika Serikat.

Di usia sangat muda, Caine merintis usaha sederhana yaitu membuat dan menjual mainan berbahan kardus bekas. Ia mendapat kardus dari toko aksesoris mobil milik ayahnya. Beberapa mainan yang ia buat seperti pemancing boneka dan pelempar bola basket.

Bahkan, majalah bisnis Forbes menobatkan ia sebagai calon miliarder di usia 30 tahun. Penobatan itu kriteria seperti, hampir seluruh pengusaha sukses memulai bisnis sejak kecil. Selain itu, meski masih muda ia sangat mencintai pekerjaannya sebagai pembuat dan penjual mainan berbahan kardus. Itu mengingatkan pada almarhum Steve Jobs yang mencintai bisnisnya, Apple Inc.

Caine juga mampu mengomunikasikan produk dan cara pembuatan mainan kepada konsumen. Caine begitu tekun, bersemangat, dan sabar menawarkan mainan pada pelanggan ayahnya. Padahal, anak seusianya sangat jarang memiliki kesabaran itu. Anak-anak lain lebih memilih bermain video game ketimbang berjualan.

Layaknya bos Facebook Mark Zuckerberg, Caine bisa memulai usahanya dengan biaya minim. Zuckerberg pun demikian. Ia merintis bisnis jejaring sosial Facebook dari asrama tanpa perlu mengeluarkan banyak modal. Hingga kini, Caine memiliki uang 120 ribu dolar AS. Bila dikonversikan ke mata uang Indonesia, Caine mengantongi kekayaan hingga Rp1,2 miliar di saat masih berusia 9 tahun. (*/Forbes/AS)

Saturday, August 4, 2012

Wilow Tufano: Rintis Bisnis Properti di Usia 14

wilowWilow Tufano , seorang gadis berusia 14 tahun, dijuluki pengusaha properti termuda Amerika . Tufano dikabarkan baru saja berhasil kumpulkan dana sebesar 12 ribu dollar AS untuk bisnis propertinya yang baru saja dimulai.
Tufano memulai bisnis propertinya dari nol disokong orang tuanya. Ia mengumpulkan setengah dari dana tersebut dengan membersihkan dan menjual barang-barang tak terpakai dari bangunan properti yang sebelumnya ditutup di Florida. Bangunan-bangunan itu adalah properti yang dijual oleh ibunya yang berprofesi sebagai agen real estat.
rumah berdinding blok semen dengan dua kamar tidur itu sudah diiklankan dengan harga jual 100 ribu dollar AS pada masa puncak terjadinya property bubble di tahun 2005.
Namun kini harganya turun drastis menjadi sepersepuluhnya. Dengan harga 10 ribu dollar saja, rumah itu akhirnya dijual setelah pemilik awalnya tak mampu membayar cicilan rumah dan disita oleh pihak bank.
Penggemar berat Lady Gaga ini tertarik dalam dunia properti saat ia baru saja menginjak usia 7 tahun dengan mengikuti ke mana pun sang ibu pergi. Ia mulai menjual perabot-perabot rumah saat resesi melanda dan pasar terguncang.
Dalam sebuah acara outing bersama sang ibu, ia menyaksikan bagaimana sebuah rumah yang dijual disesaki oleh barang-barang yang seharusnya dikeluarkan. Ia bertanya pada orang yang hendak membeli rumah itu apakah orang itu keberatan jika mengijinkannya membersihkan rumah itu dari barang-barang yang tak berguna itu dari tempat tersebut.
“rumah itu dipenuhi berbagai barang. Saya berpikir, ‘Saya bisa menjual barang-barang itu jika ia membolehkan saya memilikinya,” katanya pada suatu kesempatan.
Sebelum Wilow menghasilkan 500 dollar per bulan dengan membersihkan rumah yang sudah disita bank ini dan kemudian saat si ibu menjual rumah dengan 2 kamar tidur itu , ia memutuskan mencoba dan membelinya.
Ia menambahkan, “Saya berpikir, ‘Bagaimana jika saya membeli rumah itu? nampaknya gila. “ Wilow menggambarkan tempat itu sebagai  sebuah kapal pecah saat membelinya, kemudian ia segera membersihkannya dan kini sedang disewakan kepada pasangan muda dengan tarif 700 dollar per bulan.
Walaupun ia membaginya sama rata dengan ibunya, ia sudah berjanji untuk melunasi utang keluarganya saat berusia 18 tahun. Ambisi sang remaja, meskipun pada awalnya terdengar aneh menjadi terkabul karena turunnya nilai properti Florida.
Negara bagian di mana ia tinggal adalah yang terparah terkena krisis dengan angka dari RealtyTrac yang menyatakan bahwa separuh dari setiap 363 rumah tangga ditutup di bulan Januari.
Ini sudah terjadi pada para pemilik rumah, yang berada di luar tempat kerja, yang tak mampu bayar pelunasan hipotek. Bank kemudian mengambil kendali atas properti bersangkutan dan karena mereka memiliki banyak properti seperti itu dalam daftar kepemilikan mereka, mereka akan menjualnya dengan harga yang relatif rendah. (Sumber: DailyMail.co.uk/ *AP)

Wednesday, August 1, 2012

Harli Jordean, Raja Kelereng Berusia 8 Tahun

 Sudah tergila-gila dengan kelereng sejak balita. Topik pembicaraan yang paling ia sukai adalah kelereng. Bangun tidur, hal yang pertama kali dibicarakan adalah kelereng dan hal terakhir yang ia bicarakan sebelum pergi tidur di malam hari adalah kelereng. Bahkan, ia menyimpan beberapa butir kelereng di bawah bantalnya untuk menemaninya tidur. Dengan begitu tertariknya bocah asal London ini akan mainan berbentuk bulat itu, sudah sepantasnyalah kalau ia menjadi pengusaha cilik berbisnis kelereng.

Harli Jordean, nama bocah laki-laki itu. Usianya saat ini 8 tahun. Di sela kesibukannya sebagai siswa sekolah dasar Harli juga sibuk mengelola bisnis penjualan kelereng. Mulai mencari, menghubungi serta menjalin kerja sama dengan supplier, lalu belanja produk untuk stok hingga menangani order, packing dan melakukan pengiriman ke konsumen. Pemasarannya dilakukan secara offline dan online.

Sebelumnya, Harli tak pernah merencanakan membangun bisnis penjualan kelereng. Ia hanya sekedar iseng ketika menggaet konsumen pertamanya yakni teman-teman di taman bermain. Namun alih-alih menggunakan uang hasil penjualan itu untuk jajan, Harli justru meminta bantuan sang ibu, Tina, untuk membeli kelereng sebagai stok yang siap dijual kembali. Setelah puas dengan hasil penjualan yang diperolehnya, Harli lagi-lagi merengek kepada Tina. Kali ini yang dimintanya adalah bantuan untuk membuat situs di internet.

“Obsesi Harli akan kelereng begitu besar, karena itu kami mulai memanggilnya Marble King—jadi ketika ia ingin membuat website, nama yang terlintas adalah itu (Marble King),” jelas Tina seperti dilansir dari laman Daily Mail, Senin (14/11). Melalui laman marbleking.co.uk, hanya dalam beberapa bulan dari waktu pertama launching, Harli menerima order dalam jumlah besar. Kelereng dengan variasi corak, mulai dari yang bermotif biasa hingga bermotif limited edition seperti kelereng bercorak meja mewah Duke of York seharga 599 poundsterling dijualnya ke publik. Konsumennyapun bertambah luas. Tak hanya teman-teman bermainnya saja tapi sudah meluas hingga ke negeri Paman Sam, AS.

Diperkirakan, omzet bisnis Harli mencapai lebih dari seribu poundsterling. Order terus membanjiri website bocah berambut keriting itu, iapun mulai kewalahan dalam mengelola bisnisnya hingga memutuskan untuk mempekerjakan ibu serta dua kakak laki-lakinya. “Aku sangat menyukai kelereng dan aku bangga memiliki bisnis kelereng ini. Aku senang berperan sebagai bos tapi aku juga butuh bantuan orang lain untuk melakukan sebagian pekerjaanku, jadi ketika ada masalah aku takkan sendirian menanganinya,” ucap Harli.

Sebagai seorang ibu, Tina juga bangga melihat buah hatinya itu. Ia senang Harli bisa mengelola bisnis yang disukainya. Bagi Tina, apa yang tengah dilakoni Harli adalah pelajaran berharga yang bisa dijadikan modal untuk hidupnya kelak. Diceritakan oleh Tina, Harli memiliki impian memproduksi secara masal kelereng dengan brand ciptaannya sendiri di negeri China lalu menjualnya di toko miliknya sendiri di Inggris dan di toko yang ia buka di belahan dunia lain. “Impianku adalah memiliki jaringan toko seperti Hamleys—ini (toko milik Harli) akan menjadi toko mainan terbesar di dunia yang khusus menjual kelereng,” ungkap Harli. (*/ely)

Wednesday, July 25, 2012

Teknopreneur Cilik ,The Next Steve Jobs.

Konferensi teknologi TEDxManhattanBeach yang berlangsung di South Bay, Los Angeles, pada 22 Oktober silam sontak menjadi riuh. Kehadiran Thomas Suarez di tengah-tengah para ahli teknologi dalam sebuah ajang bertajuk “Tranforming Learning” adalah pemicunya. Pasalnya, bocah berusia 12 tahun itu mempresentasikan produk ciptaan serta perusahaan startup-nya kepada khalayak dengan penuh percaya diri dan bahasa tubuh yang mengingatkan publik akan mendiang Steve Jobs. Tak heran, jika banyak pihak meramalkan dirinya sebagai pengganti pendiri Apple Inc tersebut. Siapakah sebenarnya Thomas Suarez ini?

thomas-suarezThomas hanyalah bocah asal California yang duduk di bangku kelas 6. Ia adalah pendiri CarrotCorp, startup yang kini tengah mengembangkan aplikasi untuk iOS. Bocah yang konon telah terpesona oleh komputer sejak sebelum masuk TK ini mulai membangun impian dengan klub di sekolah. Ia mengajak teman-temannya untuk masuk klub yang memiliki agenda menciptakan aplikasi. Dari penjelasan Thomas, ada guru yang akan mengajarkan anak-anak mengenai aplikasi untuk iPad di klub itu dan rencananya keberadaan klub tersebut akan meluas ke seluruh distrik tempat tinggalnya. Anak-anak yang tertarik masuk ke dalam ini takkan diminta pungutan bayaran apapun.

“Banyak anak yang hobi bermain game tapi sekarang mereka ingin menciptakannya,” ujarnya seperti dikutip dari laman The Star, Jumat (11/11). Ia melanjutkan, “Dan ini sulit karena tak semua anak yang tahu di mana mereka bisa belajar membuat program. Tak banyak orangtua yang juga memahaminya.” Dengan kecerdasannya, Thomas berusaha membuat wadah di mana anak-anak seusianya atau bahkan lebih muda bisa mengenal dunia programming sejak dini. “Bagi yang suka sepak bola bisa masuk tim sepak bola, tapi bagaimana dengan anak yang gemar membuat aplikasi?” paparnya dalam presentasi di TEDx seperti dilansir dari Daily Mail, Selasa (15/11).

Pengagum Steve Jobs ini mengaku telah tertarik dengan coding sejak taman kanak-kanak dan tak berapa lama sesudahnya ia mempelajari secara otodidak program dasar lain seperti Python, C dan Java. Bocah berponi ini mulai tergugah mencipta dan menjual aplikasi ketika Apple meluncurkan Software Development Kit. Di penghujung tahun 2010, Thomas merilis aplikasi pertamanya yakni Earth Fortune, program yang bisa mengubah warna bumi berdasarkan peruntungan.

Karyanya yang paling laris bertajuk ‘Bustin Jieber’, game yang terinspirasi dari whac-a-mole itu memungkinkan player bisa meninju secara virtual wajah idola muda asal Kanada, Justin Bieber. “Saya membuatnya karena banyak anak di sekolah yang tak begitu menyukai Justin Bieber,” candanya.

Kini, di tengah-tengah waktu luangnya, Thomas sedang sibuk mengelola CarrotCorp. Startup itu berdiri untuk menjual semua aplikasi yang berhasil diciptakannya. Ketika mempresentasikan produknya di TEDx, Thomas membuat penasaran khalayak dengan memamerkan salah satu tagline di laman tersebut yang berbunyi, ‘Uploading pictures will never be the same. Coming soon’.

Untuk ke depannya, Thomas memiliki misi mengembangkan program aplikasi untuk Android. Nah bagaimana menurut Anda, apakah bocah ini layak memeroleh julukan ‘the next Steve Jobs’? (*/ely)

Saturday, July 21, 2012

Remaja Ini Menjadi Entrepreneur Berkat Rambut Indah

Memiliki rambut indah merupakan karunia besar bagi Leanna Archer. Tak hanya mampu menambah rasa percaya diri, melalui rambutnya yang indah itu jugalah Leanna bisa memeroleh penghasilan lebih dari US$ 100 ribu per tahun (sekitar Rp900,5 juta) serta berkesempatan menjadi pembicara di beragam event yang berkaitan dengan entrepreneurship. Dan yang membuat perempuan ini tampak sangat hebat adalah ia telah menjadi CEO perusahaannya sendiri di kala usianya 9 tahun!

leanna-archerSejak kecil Leanna sering mendapat pujian dari orang lain berkat rambutnya yang hitam berkilau indah. Rahasia rambut indah Leanna itu bukan berkat perawatan eksklusif di salon ternama melainkan dari formula tradisional milik sang nenek. Karena sering ditanya resep kecantikan rambutnya, Leanna memberanikan diri untuk menjual formula homemade neneknya.

Respon penjualan terhadap produk perawatan rambutnya sangat positif. Tak lama kemudian, ia menyambut peluang yang sudah terbuka itu dengan mendirikan perusahaan Leanna’s Inc. dibantu oleh anggota keluarganya, Leanna memasarkan aneka macam produk perawatan rambut mulai dari sampo, conditioner, shea butter dan produk perawatan rambut lain berbahan alami di toko-toko dan online.

Mempunyai bisnis menguntungkan membuka pintu bagi gadis berdarah Haiti ini untuk berbagi kisah sukses terutama kepada anak-anak remaja seusianya. Ia menerima banyak undangan bergengsi dari sejumlah organisasi serta perusahaan ternama untuk menjadi pembicara, seperti ajang Black Enterprise’s Teenpreneur’s Conference, forum What Makes A Young Champion di Singapura, acara NAACP Youth Worshop 2009 dan diundang Apple Inc. untuk menghadiri pertemuan para eksekutif bidang edukasi dalam rangkaian acara Education Leadership Summit 2010 yang terbatas untuk umum itu. Berminat untuk menularkan semangat entrepreneurship kepada orang lain, gadis yang berdomisili di Long Island, New York ini sangat menikmati saat-saat berbagi kisah dan resep suksesnya.

Sukses dan berpenghasilan besar tak membuat Leanna lupa diri atau sombong. Ia tetap gadis remaja yang rendah hati serta murah hati. Hal itu terbukti dengan keputusannya untuk mendirikan Leanna Archer Education Foundation, organisasi sosial untuk membantu anak-anak miskin di Haiti dengan program pendirian sekolah serta pemahaman mengenai kelestarian lingkungan kepada lebih dari 150 anak usia sekolah. Di usianya yang kini menginjak 15 tahun, Leanna tetap bersemangat menebarkan ‘virus’ entrepreneurship dengan berpegang pada prinsipnya “dreams are wild, but they’re wild enough to come true”.

Wednesday, July 18, 2012

Kisah Hamzah Izzulhaq, Entrepreneur Sukses Berusia 18 Tahun




Entrepreneur berusia 18 tahun ini tidak ingat secara pasti kapan pertama kali dirinya mulai berdagang. Namun satu hal yang pasti adalah bibit-bibit kemandiriannya telah terbentuk sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Mulai dari menjual kelereng, gambaran, petasan hingga menjual koran, menjadi tukang parkir serta ojek payung, Hamzah Izzulhaq, demikian nama entrepreneur muda ini memoles jiwa entrepreneurship-nya. Bertujuan menambah uang saku, ia melakoni semua itu di sela-sela waktu luang saat kelas 5 SD.



Hamzah, begitu dia sering disapa, terlahir dari keluarga menengah sederhana. Sang ayah berprofesi sebagai dosen sementara ibunda adalah guru SMP. Secara ekonomi, Hamzah tak kekurangan. Ia senantiasa menerima uang saku dari orangtuanya. Namun terdorong oleh rasa ingin Mandiri dan memiliki uang saku yang lebih banyak, Hamzah rela menghabiskan waktu senggangnya untuk mencari penghasilan bersama dengan teman-temannya yang secara ekonomi masuk dalam kategori kurang mampu.

Hamzah mulai menekuni bisnisnya secara serius ketika beranjak remaja dan duduk di bangku kelas 1 SMA. Ia berjualan pulsa dan buku sekolah setiap pergantian semester. Pemuda kelahiran Jakarta, 26 April 1993 ini melobi sang paman yang kebetulan bekerja di sebuah toko buku besar untuk menjadi distributor dengan diskon sebesar 30% per buku. “Buku itu lalu saya jual ke teman-teman dan kakak kelas. Saya beri diskon untuk mereka 10%, sehingga saya mendapat 20% dari setiap buku yang berhasil terjual. Alhamdulillah, saya mengantongi nett profit pada saat itu mencapai Rp950 ribu/semester,” aku Hamzah kepada CiputraEntrepreneurship.com.

Uang jerih payah dari hasil penjualan pulsa dan keuntungan buku kemudian ditabungnya. Sebagian dipakai untuk membuka konter pulsa dimana bagian operasional diserahkan kepada teman SMP-nya sementara Hamzah hanya menaruh modal saja. Sayangnya, bisnis itu tak berjalan lancar. Omzet yang didapat sering kali dipakai tanpa sepengetahuan dan seizin Hamzah. Voucher pulsapun juga sering dikonsumsi secara pribadi. Dengan kerugian yang diteriman, Hamzah akhirnya memutuskan untuk menutup usaha yang hanya berjalan selama kurang lebih 3 bulan itu. “Sampai sekarang etalase untuk menjual pulsa masih tersimpan di gudang rumah,” kenang Hamzah sambil tertawa.

Dengan menyimpan rasa kecewa, Hamzah berusaha bangkit. “Saya sangat suka membaca buku-buku pengembangan diri dan bisnis. Terutama buku “Ciputra Way” dan “Quantum Leap”. Sehingga itu yang membuat saya bangkit ketika rugi berbisnis,” jelasnya. Bermodal sisa tabungan di bank, Hamzah mulai berjualan pulsa kembali. Beberapa bulan kemudian, tepatnya ketika ia kelas 2 SMA, Hamzah membeli alat mesin pin. Hal itu nekat dilakoninya karena ia melihat peluang usaha di sekolahnya yang sering mengadakan sejumlah acara seperti pentas seni, OSIS dan lainnya, yang biasanya membutuhkan pin serta stiker. Dari acara-acara di sekolah, ia menerima order yang cukup besar. Tapi lagi-lagi ia harus menerima kenyataan merugi lantaran tak menguasai teknik sehingga banyak produk orderan yang gagal cetak dan mesinnya pun rusak. “Ayah sedikit marah dengan kerugian yang saya buat itu,” lanjut Hamzah.

Dari kerugian itu, Hamzah merenung dan membaca biografi pengusaha sukses untuk menumbuhkan kembali semangatnya. Tak berapa lama, ia mulai berjualan snack di sekolah seperti roti, piza dan kue-kue. Profit yang terkumpul dari penjualan makanan ringan itu sebesar Rp5 juta. Pada pertengahan kelas 2 SMA, ia menangkap peluang bisnis lagi. Ketika sedang mengikuti seminar dan komunitas bisnis pelajar bertajuk Community of Motivator and Entrepreneur (COME), Hamzah bertemu dengan mitra bisnisnya yang menawari usaha franchise bimbingan belajar (bimbel) bernama Bintang Solusi Mandiri. “Rekan bisnis saya itu juga masih sangat muda, usianya baru 23 tahun. Tapi bimbelnya sudah 44 cabang,” terangnya.

Hamzah lalu diberi prospektus dan laporan keuangan salah satu cabang bimbel di lokasi Johar Baru, Jakarta Pusat, yang kebetulan ingin di-take over dengan harga jual sebesar Rp175 juta. Dengan hanya memegang modal Rp5 juta, pengusaha muda lulusan SMAN 21 Jakarta Timur ini melobi sang ayah untuk meminjam uang sebagai tambahan modal bisnisnya. “Saya meminjam Rp70 juta dari ayah yang seharusnya uang itu ingin dibelikan mobil. Saya lalu melobi rekan saya untuk membayar Rp75 juta dulu dan sisanya yang Rp100 juta dicicil dari keuntungan tiap semester. Alhamdulillah, permintaan saya dipenuhi,” kenang Hamzah.

Dari franchise bimbel itu, bisnis Hamzah berkembang pesat. Keuntungan demi keuntungan selalu diputarnya untuk membuat bisnisnya lebih maju lagi. Kini, Hamzah telah memiliki 3 lisensi franchise bimbel dengan jumlah siswa diatas 200 orang tiap semester. Total omzet yang diperolehnya sebesar Rp360 juta/semester dengan nett profit sekitar Rp180 juta/semester. Sukses mengelola bisnis franchise bimbelnya, Hamzah lalu melirik bisnis kerajinan SofaBed di area Tangerang.

Sejak bulan Agustus lalu, bisnis Hamzah telah resmi berbadan hukum dengan nama CV Hamasa Indonesia. Lulusan SMA tahun 2011 ini duduk sebagai direktur utama di perusahaan miliknya yang omzetnya secara keseluruhan mencapai Rp100 juta per bulan. “Saat ini saya sedang mencicil perlahan-lahan modal yang saya pinjam 2 tahun lalu dari ayah. Alhamdulillaah, berkat motivasi dan Pak Ci saya sudah bisa ke Singapore dan Malaysia dengan hasil uang kerja keras sendiri,” ujarnya.

Menurut Hamzah, dari pengalamannya, berbisnis di usia muda memiliki sejumlah tantangan plus kendala seperti misalnya diremehkan, tidak dipercaya dan lain sebagainya. Hal itu dianggapnya wajar. “Maklum saja, sebab di Indonesia, entrepreneur muda dibawah 20 tahun masih amat langka. Kalau di Amerika usia seperti saya ini mungkin hal yang sangat biasa,” tutupnya.

Saturday, July 7, 2012

Lizzie Marie, Chef Cilik yang Ingin Membangun Kerajaan Bisnis

Kali pertama Lizzie Marie Likness disejajarkan dengan selebriti chef adalah saat usianya 7 tahun. Ketika itu, banyak yang meramalkan gadis yang kini telah beranjak remaja ini akan menjadi pengganti Rachael Ray, selebriti chef sekaligus pengusaha wanita ternama AS. Kini saat usianya 11 tahun, entrepreneur cilik yang memang menyukai dunia memasak itu semakin memantapkan langkahnya untuk meraih impian yakni mendirikan kerajaan bisnis di bidang yang disukainya.

LIZZIE-MARIE-CUISINEUpaya untuk mencapai mimpinya telah banyak dilakukan Lizzie. Melalui website-nya, Lizzie rajin meng-update resep sehat praktis untuk konsumsi anak plus tayangan video serta blog yang menarik. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai pelajar, ia juga menyempatkan diri ‘meracik’ proyek berupa program TV online untuk WebMD bertajuk “Healthy Cooking with Chef Lizzie”. Ke depannya, gadis asal Atlanta yang membangun bisnis dengan tajuk Lizzie Marie Cuisine pada 2006 ini berencana menyusun buku masak serta perlengkapan masak dengan brand bisnisnya.

Bagi entrepreneur cilik ini, passion yang begitu kuat telah menuntunnya pada kesuksesan dalam berbisnis. Untuk mengetahui perjalanan Lizzie dalam mengembangkan hobi menjadi bisnis serta mengenal sosoknya lebih lanjut, simak hasil percakapan remaja yang memiliki perusahaan Lizzie Marie Cuisine dengan Huffington Post berikut.

Usia berapa kamu mulai jatuh cinta pada dunia memasak?
Aku mulai memasak ketika berusia 2 tahun. Ibu dan nenek yang mengajari. Sejak kecil, ibu selalu membawaku ke dapur dan menjadikanku penyicip masakannya. Jika ia membuat sup atau apple sauce, aku akan membantu mengaduk masakannya dan terkadang menambahkan bumbu.

Lalu di usia 6 tahun, aku tertarik menunggang kuda. Aku meminta ijin orangtua untuk memperbolehkan ikut kursus menunggang kuda jika aku bisa membiayainya sendiri. Dan orangtuaku bertanya bagaimana cara aku bisa memeroleh uang tersebut kemudian aku menjawabnya dengan menjual homemade makanan nan sehat ke toko petani lokal. Aku melakukannya hingga satu setengah tahun dan mulai menyadari bahwa aku suka sekali memasak dan bisa menunjukkan kepada masyarakat bahwa healthy food dapat menjadi hidangan yang lezat dan menyenangkan.

Kapan kamu mulai menyadari hasil penjualanmu ternyata lebih dari sekadar uang untuk membiayai kursus menunggang kuda dan kemungkinan bisa menjadi peluang bisnis yang sesungguhnya?
Aku tidak pernah menyangka bisa membangun bisnis hanya dengan menjual apple dapple bread dan chocolate chip cookies di toko lokal. Ini lebih pada kepuasan telah melakukan sesuatu untuk mengejar passion yang kumiliki. Tapi ketika aku melihat banyak orang yang menyukai masakanku dan menyadari bahwa aku menikmati momen saat aku bangun pagi-pagi sekali untuk memasak dan melihat reaksi orang ketika mencicip masakanku, saat itulah aku ingin membawa hobi ini ke level selanjutnya. Lalu aku bertanya kepada ayah bagaimana cara membuat website. Dan kita membuat video pertama kemudian meng-upload-nya ke YouTube. Aku begitu gugup. Banyak yang mendukung dan ada juga yang berpikir bahwa anak seusiaku seharusnya tidak berada di dapur untuk memasak. Itulah pendapat orang. Tapi aku menyukai apa yang kulakukan dan hal itu menuntunku untuk melakukan hal-hal yang menakjubkan. Semua mengalir apa adanya dan menikmati kemana arus ini akan membawaku.

Bagaimana reaksi konsumen?
Banyak orang yang terkejut begitu tahu berapa usiaku, mereka tak menyangka anak berusia 6 tahun berada di dapur membuat roti dan kue. Saat mereka mencicip hasil masakanku, mereka lebih terkejut lagi karena rasanya enak dan bahannya ternyata juga sehat. Banyak juga yang ragu-ragu untuk mencicip karena resepku termasuk kreatif dan memakai bahan-bahan unik. Tapi ketika mencicipnya, mereka sadar bahwa makanan sehat tak harus disajikan dengan cara yang membosankan—makanan sehat juga bisa terasa “yummy” dan menarik.

Apakah bisnismu ini juga diinspirasikan dari program orangtua yakni combined 100-pound weight loss?
Ketika orangtua menurunkan berat badan mereka, aku berusia 2 atau 3 tahun, jadi aku tak begitu menyadarinya. Ayah memang mempunyai bisnis healthy-living dan saat beranjak besar lalu mengenal dunia bisnis yang digelutinya, aku sadar bisnisnya itu sangat inspiratif dan semakin memicu minatku akan makanan sehat. Aku berpikir bila orangtuaku bisa, orang lainpun pasti bisa.

Ayah sangat membantu dari sisi bisnis. Sementara aku dan ibu lebih banyak bertukar ide tentang bagaimana kita membuat resep yang bisa diketahui anak-anak secara reguler dan membuatnya dengan resep sehat dan terlihat menarik.

Kedua orangtua benar-benar sangat mendukung aku. Ketika aku menyukai tenis, mereka berusaha untuk menyakinkan aku telah berusaha keras untuk menjadi yang terbaik di dunia tenis. Begitu pula di bisnis makanan ini. Membangun bisnis memang sulit tak peduli berapa usia saat merintisnya. Kamu pasti membutuhkan nasihat dan orangtua adalah satu dari sekian banyak orang yang bisa memberikan saran terbaik. Tak perlu takut meminta pendapat mereka, resapi saja semua saran yang diberikan dan tunjukkan kepada mereka bahwa saran serta dukungannya sungguh berarti. Merekapun pada akhirnya bisa melihat apa yang kamu lakukan merupakan impian yang ingin diraih. Terbukalah dengan ide atau saran yang berguna untuk memulai bisnis dan lihatlah kemana hal tersebut akan membawamu.

Bagaimana kesempatan dari WebMD muncul?
WebMD yang datang padaku. Mereka berminat membuat web show yang cocok untuk dikonsumsi anak-anak, mengajarkan pola makan sehat menjadi hal yang menyenangkan dan mengajak anak untuk terjun ke dalamnya. Ini sangat menarik buatku karena chef pertama yang menurut mereka cocok untuk mengisi acara tersebut adalah Jamie Oliver. Tapi, ia berhalangan karena sedang mengerjakan Food Revolution. Dan orang kedua yang terpikir oleh mereka adalah aku dan itu membuatku sangat tersanjung. Bekerja sama dengan mereka (WebMD) sangat menyenangkan—Desember lalu mereka mengajakku ke New York selama seminggu untuk proses penyutingan. Meski terlihat santai tapi aku bekerja keras dalam proyek itu dan aku ingin melakukannya kembali.

Apakah itu terjadi ketika kamu menyadari bisa menjadi “the next Rachael Ray”?
Sangat menyenangkan menyaksikan acara dia (Rachael Ray) dan menurutku dia adalah chef hebat yang memiliki energi dan semangat tinggi serta terlihat sangat menyukai apa yang ia lakukan. Akupun ingin sekali memiliki kesempatan yang sama dengannya dan mempunyai acara talk show atau cooking show sendiri seperti dirinya suatu hari nanti. Dia adalah sosok yang sangat kukagumi dan aku ingin seperti dia.

Bagaimana rasanya bertemu dengan Rachael Ray di acaranya sebagai salah satu kontestan Kindness Challenge?
Aku sama sekali tidak gugup tapi begitu acara telah selesai dan sadar bahwa aku telah berada di panggung yang sama dengannya aku menjadi gugup. Tapi itu adalah pengalaman berharga dan sangat menyenangkan. Aku senang bisa berjabat tangan dengannya dan juga bangga karena aku adalah kontestan termuda. Ketika Rachael memperkenalkan diriku melalui putaran video dan menyebut namaku, aku sangat gembira dan berkata dalam hati, “Ya ampun, Rachael tahu namaku.”

Nasihat apa yang ia (Rachael Ray) berikan untukmu?
Ia berkata kepada kami (semua kontestan Kindness Challenge) untuk terus melakukan apa yang telah kami lakukan dan melakukan apa yang kami cintai. Dia juga berkata, jangan biarkan orang lain menyuruh apa yang seharusnya kita lakukan atau bagaimana seharusnya kita melakukannya. Karena jika melakukan sesuatu atas kehendak orang lain, kamu takkan bisa bahagia. Tapi jika melakukan sesuatu yang kamu sukai dan benar-benar memiliki passion dengan hal tersebut, segala hal yang menyenangkan akan terjadi.

Apa rencana bisnismu? Apa visimu?
Aku sedang menyusun buku masak untuk anak dan orang dewasa, sebab aku ingin mengajak anak-anak ke dapur untuk membantu memasak. Aku bekerja sama dengan perusahaan makanan yang cukup besar—tapi belum bisa menyebutnya sekarang—untuk membicarakan kemungkinan membuat brand, memiliki produk yang berbeda dan hal-hal semacam itu. Aku juga ingin membuat perlengkapan masak seperti halnya Rachael Ray. Akupun menyimpan sejumlah proyek menarik yang bisa membuat Lizzie Marie Cuisine tumbuh semakin besar.

Apakah kamu ingin berkecimpung dengan dunia ini hingga dewasa nanti atau ada hal lain yang ingin kamu lakukan kelak?
Aku masih belum tahu apakah akan terjun di dunia ini sepanjang hidupku tapi saat ini aku benar-benar sedang menikmatinya. Aku memiliki passion di bidang lain seperti sains forensik, membaca dan memanah. Aku juga belum tahu apakah nanti akan kuliah dan membuka restoran tapi bila memikirkan memiliki TV show sendiri dan membuat perlengkapan rumah tangga dengan nama Lizzie Marie Cuisine, itu adalah impian yang sangat indah. Aku tidak akan mengatakan saat berusia 20 tahun aku akan membuka resto atau mungkin juga akan meninggalkan Lizzie Marie Cuisine, sebab takkan ada yang tahu apa yang akan terjadi esok. Tapi selama ini aku memiliki pengalaman menakjubkan dengan Lizzie Marie Cuisine dan aku tertarik untuk melihat apa yang akan terjadi dengannya kelak.

Banyak entepreneur yang menemui sejumlah tantangan dalam menyeimbangkan kehidupan pribadi dengan bisnis, tak peduli berapapun usia mereka. Lalu apa rahasiamu untuk membuat keduanya seimbang?
Meski aku mempunyai bisnis yang sedang berjalan tapi perusahaanku belum begitu besar hingga membuat paparazzi tertarik olehnya. Yang terpenting, teman-teman sangat mendukung dan menurut mereka apa yang tengah kulakukan sangat menyenangkan. Mereka tetap memperlakukanku sama. Tapi kadang terasa lucu ketika sedang bercakap-cakap dan menanyakan kegiatan selama akhir pekan kebanyakan dari mereka menjawab bermain roller skating atau pergi belanja sementara aku mengisinya dengan shooting di CNN. Aku pernah memikirkan bahwa hidupku akan semakin sibuk seiring dengan semakin berkembangnya Lizzie Marie Cuisine. Tapi aku mengambil homeschool dan itu lebih fleksibel serta mudah mengatur waktu. Sekali lagi kukatakan, tanpa keluarga dan teman-teman, aku mungkin takkan memiliki Lizzie Marie Cuisine. Mereka semua membuatku mempunyai kehidupan yang normal dan membantuku tak mudah lupa diri, jadi aku tak merasa menjadi “anak 11 tahun yang terkenal karena memiliki bisnis sendiri”.

Ada nasihat untuk para entrepreneur cilik?
Lakukan saja apa yang kamu sukai, meski kamu tak yakin bisa melakukannya. Orang selalu menanyakan hal yang sama kepada anak-anak, “Apa yang akan kamu lakukan setelah dewasa?” Menurutku jangan menunggu hingga dewasa untuk melakukannya. Aku akan menjawabnya seperti ini, “Aku telah memiliki bisnis sendiri. Mudah-mudahan, saat dewasa aku telah memiliki TV show.” Hal terpenting adalah melakukan hal yang paling disukai. Jangan pernah takut untuk melakukan hal yang kamu sukai. (*/ely)

Wednesday, July 4, 2012

Hart Main, Si Pencipta Man Can

Ide bisnis bisa muncul kapan saja. Simak kisah yang dialami Hart Main, penemu lilin kaleng yang aromanya khusus untuk pria. Dalam usia 13 tahun, Hart berhasil menciptakan Man Can, begitu lilin kaleng ciptaannya dia namakan. Hart sudah mempunyai ide bisnis sejak kecil.

hartcan1011Man Cans yang dia ciptakannya memang untuk dijual. Aroma Man Cans disukai banyak orang. Mulai aroma kopi, serbuk gergaji, hingga rumput. Man Can dibuat dari kaleng sup yang didaur ulang. Kisah awal temuannya ini muncul ketika Hart melihat kakak perempuannya menjual lilin untuk pengumpulan dana sekolah. Namun sayang, menurut Hart, lilin-lilin yang dijual itu mempunyai aroma yang kebanyakan untuk wanita seperti aroma apel, kayu manis, lavender, dan kapas.

Menurut Hart, walaupun untuk menggalang dana sekolah, seharusnya lilin yang dijual bisa dinikmati semua orang. Pada saat itu, ide Hart dianggap hanya sebuah lelucon, namun orangtuanya tetap mendorong sehingga berhasil menciptakan Man Can.

Hart memulai bisnisnya dengan modal 100 dolar AS hasil jualan koran. Saat ini ada sejumlah aroma lilin Man Can yang dijual di pasaran, semuanya dijual dalam harga 9,5 dolar AS. Hart sekarang sedang mengenyam pendidikan SMA. Dengan produk yang dihasilkannya, Hart mampu membeli sejumlah keperluannya sendiri. (*/Koran Sindo)

Wednesday, June 20, 2012

Sarah Buckel, Pemilik Paten Kertas Dinding Magnetik

Seperti anak perempuan lain di DuBois, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS), Sarah Buckel menghabiskan waktunya untuk mendekorasi loker sekolah. Dia menginginkan lokernya berwarna seperti yang dilihatnya di layar televisi Disney Channel. Akan tetapi, dia tidak ingin ada sisa lem perekat dari kertas penghias yang masih menempel di dinding loker. Pada 2006, tahun terakhirnya di sekolah menengah pertama, Sarah melihat sejumlah temannya harus tinggal di sekolah justru pada hari terakhir sekolah. Mereka berusaha keras untuk membersihkan sisa-sisa stiker yang masih menempel di dinding loker sebelum meninggalkan sekolah.

sarah_magnet1011Ayah Sarah, Paul Buckel, merupakan pemimpin perusahaan yang dikenal dengan nama Magna Card. Perusahaan ini memulai memproduksi kartu nama bermagnet, dan kemudian memperluas usahanya ke produk lain seperti pita magnetik dan penghapus memo magnetik. Di mata Paul, produk-produk yang dihasilkan perusahaannya sudah mulai ketinggalan zaman. Pendapatnya pun diamini beberapa jaringan toko besar yang menjual magnet dari MagnaCard. Dia menyadari perusahaannya melakukan terobosan dengan menampilkan produk baru yang lebih segar. “Kami adalah perusahaan kecil yang rapi dengan produk-produk yang membosankan. Apabila kami tidak melakukan sesuatu dengan segera, kami akan kehilangan pelanggan,” katanya.

Pada saat yang sama, untuk menghias loker barunya di Sekolah Menengah Atas DuBois dan melihat pengalamannya di sekolah sebelumnya, Sarah meminta ayahnya untuk membuatkan semacam kertas dinding magnetik. Para desainer perusahaan yang diminta merancang produk tersebut, tidak begitu yakin.

Pada awalnya, mereka tidak bisa mengetahui bagaimana untuk memproduksi kertas dinding di bawah 29,99 dolar AS per gulung. Beberapa bulan kemudian, mereka berhasil membuat kertas dinding dengan harga 9,99 dolar AS. Sarah, yang tertarik untuk berkarier dalam bidang desain interior dan merencanakan melanjutkan kuliahnya di sekolah seni, membantu mendesain pola kertas dinding yang dinilai dapat menarik bagi gadis sekolah menengah pertama. Dia menyarankan pola kamuflase merah muda yang populer di tim pemandu soraknya dan memveto sejumlah ide dari kalangan profesional seperti pola tengkorak mini.

Dia juga meminta ayahnya agar rancangan tersebut tetap berada pilihan untuk gadis-gadis praremaja dan remaja. Pasalnya, sang ayah membuat contoh loker untuk ditunjukkan kepada pembeli dengan potongan majalah yang bergambar aktor Nicolas Cage. Sarah memprotes ide ayahnya tersebut. Layakkah Nicolas Cage yang berusia di atas 40 menghiasi loker gadis remaja? Akhirnya pada contoh kertas loker di rumahnya, dia menunjuk gambar Jones Brother, yang dianggapnya lebih sesuai dengan usia remaja. Ternyata pembeli menyukai ide kertas dinding loker tersebut.

Produk tersebut kemudian ditempatkan di sejumlah jaringan toko besar seperti Target, Staples, Rite Aid, dan menghasilkan lebih dari 1 juta dolar AS. ”Ekonomi memang memburuk saat ini. Sejumlah kawan bahkan kehilangan bisnisnya tapi kami mampu menjual di atas satu juta,” kata Paul.

Mereka menjual enam pola kertas dinding yang berbeda, dari motif bunga-bungaan ke motif titik sampai jejak harimau. Tidak hanya itu MagnaCard kemudian membuat sejumlah aksesori tambahan untuk loker, dari magnet bentuk hati sampai hiasan kata-kata seperti “laugh” dan “dream”.

Tak puas dengan itu, Sarah dan ayahnya kembali berinovasi dengan merancang sebuah kit untuk mendekorasi loker khusus untuk edisi ulang tahun, dan Paul juga mengembangkan produk baru dengan menggunakan kertas bermuatan listrik untuk kamar asrama dekorasi dan ruang lainnya. Dari uang hasil hak paten tersebut, mereka pun memutuskan untuk membeli perusahaan MagnaCard. (*/Koran Sindo)

Saturday, June 16, 2012

Membuat Investasi dan Kebugaran Jadi Mudah

Bagaimana belajar investasi bursa saham yang mudah? Fabian Fernandez Han, anak dari Conroo, Texas, Amerika Serikat membuatnya menjadi sederhana dengan Oink-a- Saurus.

fabian1011Oink-a-Saurus merupakan aplikasi bagi iPhone dan iPad untuk mengajar anak-anak tentang keuangan, manajemen uang, investasi, dan pasar modal. Permainan ini memiliki simulator “bagaimana jika”, untuk menunjukkan apa yang dapat kita simpan jika tidak membelanjakan sejumlah uang. Oink-a-Saurus juga memiliki fitur jejaring sosial yang memperlihatkan saham apa atau ide-ide dari anak-anak yang lain. Selain dilengkapi juga layanan berita pasar saham yang mudah dipahami anak-anak, informasi investasi serta hubungan ke broker saham.

Fabian Fernandez menemukan aplikasi ini ketika berusia 12 tahun dan dia memenangkan 25.000 dolar AS dari kontes yang diadakan By Kids for Kids (BKFK) dan Pasar Saham New York untuk idenya tersebut.Memang bukan dirinya yang membuat perangkat lunak aplikasi tersebut. Fabian hanya memberikan konsep, komponen, dan desain untuk dikerjakan sebuah tim. Fabian tertarik pada pasar saham ketika dia melihat ayahnya membuka akun ETrade. Dia kemudian bertanya pada ayahnya bagaimana jika dia membeli sejumlah saham dengan uang sendiri. Sang ayah pun mengizinkan. Aplikasi ini terdiri atas enam modul untuk mengajarkan teori keuangan. Modul pertama disebut “Who Makes It?”.

Fitur ini memungkinkan pengguna mencari tahu perusahaan-perusahaan yang membuat produk yang sering digunakan. Modul kedua disebut “3 Piggy Banks” yang memberikan pengguna kemampuan untuk menyimpan,membeli sesuatu, menabung untuk masa depan, serta menolong orang lain. Ketiga adalah “Porkfolio” di mana dengan fitur ini anak diberi kemampuan untuk membangun sebuah portofolio saham tiruan, berdasarkan temuan mereka dalam fitur “Who Makes It?”. Keempat adalah fitur “What If?”, yang bertindak sebagai simulator saham untuk saham yang dimiliki di “Porkfolio”.

Kemudian ada modul “Mud Pit”, di mana pengguna dapat berinteraksi dengan berbagi pendapat dan pertanyaan. Terakhir adalah “Investment Education”. Fabian memiliki sebuah rencana besar untuk melanjutkan pengembangan fitur aplikasi tersebut. Namun, dia masih mencari dana untuk mewujudkan mimpi tersebut. Mengintegrasikan dengan kurikulum sekolah, sehingga para siswa dapat memulai mempelajari istilah keuangan secara dini. Anak lain yang juga tak kalah hebatnya ialah CJ Senter.

Saat berusia sembilan tahun, dia melihat lintasan iklan tentang video latihan kebugaran. Kemudian, dia berkata kepada ayahnya,“Mereka seharusnya membuat video sejenis untuk anak-anak. Dapatkah saya membuatnya?” Ayahnya kemudian menjawab tentu bisa. Dibantu salah satu sepupunya, mereka kemudian mewujudkan pembuatan video tersebut. Mereka pun dihubungkan dengan sebuah perusahaan produksi video profesional yang tertarik pada ide CJ ketika melihat salah satu videonya. Karena CJ dan keluarganya tidak memiliki uang untuk memulai produksi dalam jumlah besar dan memasarkan rekaman tersebut, perusahaan video kemudian menawarkan kerja sama.

Mereka berhasil menjual beberapa ribu kopi video yang menampilkan CJ dan sejumlah kawannya. Video tersebut juga dijual dalam laman mereka, www.workoutkid.com seharga 19,99 dolar AS. (*/Koran Sindo)

Tuesday, June 12, 2012

Jadi Jutawan Berkat Tutup Botol



Ternyata tidak selamanya penemuan besar yang ada di dunia ini berasal dari penelitian rumit yang dilakukan orang dewasa yang memiliki kecerdasan dan kepandaian. Buktinya kini, ada beberapa penemuan hebat yang telah populer di dunia ternyata hanya tercipta dari ide cemerlang anak usia belia yang masih dalam tahap pertumbuhan. Bahkan, penemuan tersebut berhasil mengantarkan mereka menjadi jutawan. Sebut saja perhiasan dari tutup botol yang diciptakan Maddie Bradshaw.

Seperti dilansir situs Consumer News dan Business Channel (CNBC), lewat artikelnya yang berjudul “Inventions By Kids”, awal kesuksesan Maddie dimulai saat dia berusia 10 tahun. Saat itu, Maddie yang masih duduk di bangku sekolah bingung menghias lokernya; karena hiasannya harus unik dan tidak pasaran seperti milik siswa lain. Secara kebetulan, pada waktu itu pamannya yang memiliki mesin coke tua memberikan Maddie 50 tutup botol bekas untuk digunakan sebagai penghias. Hal ini dirasa sangat wajar, karena menurut Maddie dia berasal dari keluarga kreatif yang gemar mendaur ulang barang yang sudah tidak berguna.

“Aku dan keluargaku memang telah terbiasa dengan kreativitas, bahkan sejak kecil aku juga terbiasa dengan kegiatan mendaur ulang barang-barang yang tidak terpakai lagi,” ujarnya seperti yang dilansir dari CNBC.

Sejak itu, muncullah ide untuk melukis dan memberikan magnet di bagian belakang tutup botol bekas tersebut. Setelah selesai dibuat, Maddie menempelkan hiasan buatan tangan itu di loker miliknya. Tak disangka ternyata hiasan buatan Maddie ini sangat menarik dan unik, sehingga banyak digemari sebagian besar teman sekolahnya. Bahkan, beberapa dari teman dekatnya juga meminta dia membuatkan hiasan yang unik tersebut.

Makin hari hiasan tutup botol buatan Maddie menjadi dikenal dan dipesan banyak orang. Dengan makin banyaknya permintaan, gadis cantik ini menjadi terinspirasi untuk membuka usaha pembuatan hiasan dari tutup botol. Setelah melakukan berbagai persiapan, tepatnya pada 2006, dia akhirnya mendirikan perusahaan yang diberi nama M3 Girl Desain yang menawarkan berbagai tutup botol cantik yang bisa dijadikan hiasan. Maddie mengaku bahwa bisnis ini dimulai dengan uang simpanan pribadinya sebesar 300 dolar AS. “Itu uang hasil simpananku yang aku dapatkan saat hari ulang tahun dan natal,” kata gadis belia yang berasal dari Dallas, Texas ini.

Untuk menjalankan perusahaannya tersebut Maddie dibantu ibu dan adiknya bernama Margot yang masih berusia 9 tahun. Dalam bisnis ini, ibu Maddie bertugas menangani masalah keuangan, sedangkan Margot bertugas membantunya dalam proses produksi, yaitu dari penentuan gambar, melukis, hingga pengemasan produk tersebut. “Selera dan keahlian seni Margot memang sangat baik. Oleh karena itu, aku meminta bantuannya untuk menjalankan bisnis ini bersama-sama,” ungkap Maddie seperti yang dilansir dari inspiremetoday.com.

Untuk proses pemasaran, mereka melakukannya bersama-sama. Awal pemasaran perhiasan yang diberi nama snap caps ini, mereka mulai dengan cara menitipkannya pada salah satu toko mainan yang berada dekat lingkungan tempat tinggalnya. Karena sebelumnya sudah cukup dikenal, tak disangka ternyata hanya perlu waktu dua jam untuk menjual habis produknya tersebut.

Sehingga mulai sejak itu, bisnis Maddie makin berkembang pesat dan dikenal masyarakat luas. Bahkan dalam usianya yang ke-13, Maddie berhasil meraih untung hingga jutaan dolar AS. Selain menawarkan kalung dan gelang yang di hias dengan berbagai tutup botol cantik yang telah dilukis dan diberi magnet, saat ini Maddie juga menawarkan berbagai produk lain seperti jepit rambut, kuncir rambut, buku jurnal, kartu pos,dan notes yang dipercantik dengan snap caps. Kesemua produk ini ditawarkan Maddie dengan kisaran harga mulai 6,99 hingga 10,99 dolar AS.

Keberhasilan Maddie menjalankan M3 Girl Desain memang tidak perlu diragukan lagi. Buktinya kini dia memiliki 40 karyawan untuk membantunya menjalankan bisnis tersebut. Selain itu dari segi penjualan, snap caps juga telah berhasil menjadi hiasan yang paling digemari para remaja Amerika. Bahkan kini, beberapa artis muda Hollywood menjadikan snap caps sebagai salah satu aksesori yang mereka kenakan. Tak hanya sibuk membuat perhiasan, saat ini Maddie juga dikenal sebagai seorang penulis buku enterpreneur. Lewat bukunya yang berjudul "You can Start Business Too," Maddie mengajarkan para pembaca untuk tidak ragu dalam memulai suatu bisnis.

Situs toydirectory mengatakan bahwa kini tiap bulan Maddie mampu menjual lebih dari 60.000 kalung snap caps, yang tersedia di 2.500 toko yang ada di kawasan Amerika. Dengan semua keberhasilan tersebut, kini Maddie dinobatkan sebagai salah satu jutawan muda di dunia.

Saturday, June 9, 2012

KK, Jadi Entrepreneur Sejak 10 Tahun

Saat musim dingin, kebanyakan orang menggunakan sarung tangan. Akan tetapi, tidak sedikit dari mereka yang justru terganggu karena jari tangan mereka tidak bebas bergerak.

wrintie1011Kondisi inilah yang menginspirasi Kathryn KK Gregory yang pada 1994 saat berusia 10 tahun menciptakan wristies, sarung tangan tanpa jari. Meski tanpa jari, sarung tangan ini tetap bisa berfungsi untuk menjaga pergelangan tetap hangat dan jari-jari tetap bebas bergerak. Bagaimana wristies tercipta? Setelah badai salju New England, KK bermain di halaman rumahnya membangun sebuah benteng salju bersama adiknya. Meski sudah mengenakan pakaian musim dingin, KK merasa frustrasi karena salju terus jatuh di atas lengan mantelnya.

Kemudian, dia masuk rumah. Ibunya menyarankan agar KK menjahit sesuatu antara lengan dengan sarung tangan. Dengan bantuan ibunya, dia menjahit beberapa bulu sintetis ke dalam silinder, pas di atas lengan dan tangannya. Karena ingin agar jari-jarinya terbebas dari sarung tangan, KK memotong celah jari-jarinya. Dari situlah muncul ide untuk membuat sarung tangan yang tetap bisa menghangatkan pergelangan tangan, tetapi tidak mengganggu jari-jari untuk bergerak. Akhirnya gadis kecil ini menciptakan wristies yang dipakai di bawah mantel.

Wristies bisa digunakan dengan atau tanpa sarung tangan. Untuk menguji ketangguhan wristies, Kathryn meminta bantuan pasukan pramukanya. Siapa sangka hasil penemuan yang tidak disengaja itu di bisa menghasilkan uang yang tidak sedikit. Penemuan KK akhirnya dipatenkan dan memakai merek namanya sendiri “KK”. Kala memulai bisnis di usia muda, KK banyak mengalami tantangan. Hal tersulit yang dihadapi tentu saja membuatnya serius. Karena usianya yang masih muda, dia tidak mampu memimpin usaha, sehingga membutuhkan bantuan sang ibu.

Hal ini membuat munculnya anggapan bahwa ide wristies datang dari sang ibu. Perjalanan waktu terbukti bahwa wristies merupakan ide asli KK. Bahkan kala masih belia, dia secara gigih memasarkan hasil temuannya. Cara pemasaran pertama adalah dengan setia memakai wristies di pergelangan tangannya sendiri. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan dan keingintahuan orang yang melihatnya. Dia menerapkan prinsip pemasaran “Pakai produk Anda, gunakan produk Anda dan berbicaralah tentang produk Anda”. Dengan cara itulah, dia membangun label KK.

Tantangan lain yang dihadapinya adalah banyaknya godaan yang menghampiri. Godaan itu datang sejumlah teman bahkan tidak sedikit yang mengejeknya. Bahkan, kakaknya sendiri turut menggoda. Namun, bisnis wristies tetap tumbuh dan media pun sangat tertarik dalam menceritakan kisah tentang bagaimana anak muda mempunyai ide dan menjualnya sendiri. Kesuksesan dan kegigihannya pun akhirnya banyak menjadi berita.

Setelah karyanya mendapat perhatian masyarakat, KK bersama ibunya mendirikan perusahaan, Wristies Inc, perusahaan yang memproduksi dan menjual wristies. Sebagai entrepreneur muda, KK bisa bekerja sama dengan sejumlah perusahaan besar seperti Girl Scouts, Federal Express, dan McDonald’s. Pada 1997, KK menjadi orang termuda bisa menjual produk lewat QVC, televisi belanja. Ketika KK sekolah hingga kuliah, sang ibu selalu membantu mengembangkan usaha.

Setelah selesai kuliah selama beberapa tahun, dia berkeliling dunia, dari California hingga Asia Tenggara. KK sekarang menetap di Maine dan menjabat sebagai presiden perusahaan. Wristies dijual seharga USD10 sampai USD25 di toko-toko terpilih, juga dipasarkan di Amazon.com, Wristies.com serta media lain. Cerita wristies menjadi kisah mercusuar bagi siswa di seluruh negeri. Hal ini terbukti memberikan inspirasi dan digunakan sebagai alat pendidikan dalam kelas. (*/Koran Sindo)

Wednesday, June 6, 2012

Rozaq Adi Sagoro, Bocah SMP Pencipta Browser

Di antara banyak booth di INAICTA 2011, salah satu yang menarik adalah sebuah booth browser lokal yang dibuat oleh seorang siswa SLTP.

browser1011Adalah Rozaq Adi Sagoro, seorang siswa kelas 2 dari SLTPN 4 Bogor, yang membuat browser sendiri yang bernama BlackCat. "Browser ini saya buat dua pekan sebelum pameran INAICTA 2011," ujar Rozaq seperti dikutip dari okezone.

Dikatakan oleh Rozaq bahwa browser BlackCat buatannya hampir sama kemampuannya dengan browser lain, hanya saja browser tersebut baru bisa berfungsi pada OS Windows 7 dan Windows Vista. Nama 'BlackCat' sendiri didapat oleh Rozaq setelah ia berdiskusi panjang dengan kakaknya.

Salah satu keunggulan browser BlackCat menurut Rozaq adalah tampilan antarmuka atau UI-nya yang warna-warni, sesuai dengan tema untuk usia remaja. Browser BlackCat menurut Rozaq baru bisa digunakan hanya untuk PC, belum untuk mobile.
Selain itu, Rozaq mengaku bahwa dalam membuat browser tersebut ia hanya melihat tutorial yang tersebar banyak di internet. Browser BlackCat karya Rozaq juga terpilih sebagai salah satu nominator pemenang untuk kategori Application di INAICTA 2011.

"Browser BlackCat baru pertama kali dipamerkan dan dibagikan secara gratis di acara INAICTA 2011," ungkap Rozaq, seraya menambahkan bahwa ia juga berniat untuk mempatenkan hasil karyanya tersebut.

Saturday, June 2, 2012

Abhimantra, Reseller Berusia 13 Tahun

Masih ingat dengan Abhimantra? Ia adalah peserta tercilik dalam ajang “Speed Networking” yang digelar Indonesian Technopreneur Community dan International Design School pada 22 Juni lalu. Meski masih sangat belia, kala itu Abhimantra tak terlihat canggung sama sekali berada di tengah-tengah entrepreneur yang didominasi oleh orang dewasa. Kepercayaan diri yang ditunjukkan bocah berusia 13 tahun itu lahir berkat jiwa entrepreneur yang begitu kuat.

AbhimantraPemilik nama lengkap Abhimantra Ilham Suryomurtjito ini menyalurkan jiwa entrepreneur-nya sebagai seorang reseller toko online yang menawarkan aneka jenis produk, mulai dari jasa sampai furnitur. Debut pertama berbisnis bermula pada tanggal 7 Juni 2010 saat dirinya hendak menjual handphone bekasnya di sebuah toko online TokoBagus.com.

Feedback positif yang lantas diterimanya membangkitkan passion untuk terjun dalam dunia bisnis. Tak lama sesudah itu, tepatnya pada 23 September 2010, remaja kelahiran Jakarta, 13 April 1998 ini mulai serius menekuni usahanya dengan membuat user yang berbeda-beda di beberapa toko online. Memakai waktu luangnya, Abhimantra mencoba menciptakan peluang dengan menawarkan beragam produk yang sekiranya diminati konsumen.

Seperti penjelasannya kepada CiputraEntrepreneurship.com (CE) melalui surat elektronik, customer entrepreneur remaja yang duduk di kelas 8 ini mayoritas adalah para pecinta sepeda fixie. Karena itu, tak heran bila produk yang paling laris dijualnya yaitu sepeda yang terkenal dengan warna-warna yang cukup mencolok tersebut. Diceritakannya lebih lanjut, anak bungsu dari tiga bersaudara ini memeroleh profit sebesar 5 sampai 20 persen dari harga jual produk. Penghasilannya itu lalu disimpannya dan hanya digunakan bila dibutuhkan.

Dalam hal pemasaran, Abhimantra menggunakan media internet. Ia memasarkan produk yang dijualnya kepada teman dan para calon pelanggan dengan cara men-share-nya ke berbagai situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter serta Blog. Sementara untuk menarik pelanggan baru, bocah yang mengidolakan Ir. Ciputra serta Basrizal Koto (pengusaha asal Sumatra Barat) itu memanfaatkan mesin pencari yang beredar di jagat maya seperti Google, Yahoo, Bing, dan lainnya.

Usahanya sudah hampir memasuki usia setahun. Selama perjalanannya itu, ia mengaku tak pernah menerima komplain dari para pelanggannya. Ketika ditanya bila kelak menemui komplain langkah apa yang akan dilakukannya, pelajar SMPN 13 Jakarta ini menjawab, “Berusaha untuk menemukan pokok masalah dan menyelesaikannya. Misalkan pelanggan komplain tentang warna, segera saja diiluruskan agar tak terjadi kesalahpahaman.”

Mengenai rencana ke depannya, bocah yang bermimpi menjadi entrepreneur sukses namun tetap bersikap sederhana ini berniat menambah jumlah pelanggan sebanyak-banyaknya serta memiliki website sendiri dan jika usahanya sudah berkembang pesat, ia juga ingin membuka lapangan pekerjaan dengan menerima sejumlah karyawan.

Meski bisnis yang dijalani Abhimantra masih seumur jagung dan berkonsep sederhana tapi kemauannya untuk menjadi entrepreneur patut diacungi jempol. Melalui passion-nya yang besar, entrepreneur cilik itu sangat mampu meraih sukses seiring perjalanan usahanya. Membagi sejumlah motonya dalam berbisnis kepada CE, Abhimantra  membeberkan beberapa kiat dalam mengelola bisnis yakni memulai dengan penuh keyakinan, jeli melihat peluang dan mencari barang yang unik dengan harga terjangkau. (*/ely)