Showing posts with label Entrepreneur Sukses. Show all posts
Showing posts with label Entrepreneur Sukses. Show all posts

Wednesday, March 18, 2015

Seniman Latte Art 3D







Pengusaha Kopi Sekaligus Seniman Latte Art 3D

Sepasang tangan dengan cekatan mengambil peralatan yang dibutuhkan. Tangan kiri memegang lap, tangan kanan menyiapkan sendok dan cangkir. Saling beradu dan bekerja sama menggoreskan bentuk di atas dataran kopi panas dalam sebuah cangkir.
Satu menit, sepasang mata pemilik tangan itu masih terlihat fokus. Gerakan tangannya lincah. Keningnya berkerut. Dia lalu menuangkan segelas silky milk yang sudah diubah dalam bentuk foam. Sekitar lima menit, bentuk 3D yang diciptakan mulai tampak. Ada kucing, panda, dan Gunung Merapi.
Goresan tangan di atas secangkir kopi itu dikenal dengan latte art 3D. Dilihat dari keahliannya, sangat mungkin kehidupan orang tersebut tidak jauh-jauh dari kopi. Kalau tidak hobi minum kopi, ya punya usaha terkait kopi. Yohan Suryanto menyandang keduanya.
Dimulai pada 2006, pria 33 tahun itu mendirikan sebuah perusahaan di bidang jual beli produk smartphone. Kesibukan sering kali membuat Yohan begadang sampai larut malam. ”Kalau lagi begadang, saya pasti butuh kopi,” katanya.
Nyaris tidak ada hari yang dilewatkan Yohan tanpa minum kopi, seperti orang kecanduan. Sampai suatu saat sekitar sepuluh tahun lalu, dia minum kopi apek. Dari situ, Yohan mulai mencari tahu penyebab ada kopi yang tidak enak seperti itu. Dia mulai belajar otodidak. Membaca berbagai literatur. ”Ternyata, kopi itu unik. Satu daerah dengan daerah lainnya, satu peracik ke peracik lainnya, itu menghasilkan minuman kopi yang berbeda-beda. Tidak pernah sama,” jelas pria yang saat ini tinggal di kawasan Surabaya Barat tersebut.
Semakin banyak tahu, semakin besar pula rasa penasaran Yohan. Tidak cukup puas menjajal berbagai jenis minuman kopi, dia mulai belajar latte art. Metode itu menggunakan silky milk dalam foam untuk dibentuk sebuah hiasan di atas minuman kopi. Berdasar bentuknya, latte art dapat dibagi menjadi 2D dan 3D.
Pada dasarnya, terang Yohan, latte art 3D terbentuk dari hasil tambahan foam susu di atas bentuk dua dimensi. Suami Ineke Erwin Setiawati itu mengungkapkan, tidak ada teknik khusus yang digunakan dalam latte art. Bentuk-bentuk tersebut merupakan hasil kreativitas masing-masing. ”Bebas berkreasi apa pun. Tidak ada teori khusus untuk membentuk sesuatu di latte art,” ujar anak kedua di antara tiga bersaudara tersebut.
Ilmu kopi juga didapat Yohan dari menjelajah ke banyak tempat. Dia berkeliling dari satu daerah ke daerah lainnya di Indonesia. Juga dari satu negara ke negara lainnya. Selain itu, Yohan mulai mendalami dunia kopi di luar negeri. Dia berkeliling Asia, Eropa, dan Amerika. ”Saya tidak sekolah khusus. Tapi, saya sering belajar dari roaster di masing-masing negara yang pernah saya disinggahi,” kata ayah tiga anak itu.
Diskusi dengan roaster (peracik kopi profesional) itulah yang memperdalam ilmu Yohan di dunia kopi, termasuk latte art. Hingga saat ini dia juga masih sering keep in touch dengan para gurunya itu. Kalau tidak sempat berkunjung, Yohan menyempatkan waktu untuk berdiskusi melalui dunia maya. Hal tersebut hingga saat ini rutin dilakukannya.
Yohan menerangkan, ada tiga tingkat profesi terkait dengan peracik kopi. Pertama disebut barista, yakni orang di balik bar yang mampu meracik sajian kopi sesuai dengan profesinya. Di atas barista, terdapat primo atau senior barista. Primo adalah orang yang lebih menguasai dan mengatur alat-alat yang digunakan untuk meracik sajian kopi.
Di atas primo, ada roaster. Seorang roaster harus mengerti cara mengolah biji kopi menjadi bentuk bubuk. Sebagian besar roaster mampu membuat latte art. Baik dua dimensi maupun tiga dimensi. Yohan mampu membedakan kopi secara detail. Dari mencium saja, dia bisa menjelaskan asal daerah, kadar air, maupun jenis biji kopi yang digunakan.
Dua tahun lalu bisnis jual beli yang ditekuni Yohan terpuruk. Dia berusaha melirik usaha di bidang lain. Hingga pikirannya jatuh untuk berbisnis kopi saja. ”Saya suka kopi. Kenapa tidak membuat bisnis yang sesuai dengan hobi,” ungkap laki-laki yang mengidolakan roaster asal Taiwan Yu Chuan Jacky itu.
Bisnis kopinya ternyata mulai berkembang sejalan dengan kebangkitan bisnis produk smartphone-nya. Yohan pun berusaha menyeimbangkan dua usaha itu agar sama-sama selalu menunjukkan progres. Kafe Yohan didirikan di dekat rumahnya di Surabaya Barat. Di sana dia dapat mengeksplorasi kemampuan menyajikan kopi. Hanya, hingga saat ini Yohan belum menjual minuman kopi dengan latte art 3D.
Menurut dia, foam susu yang digunakan untuk membuat latte art itu harus tersaji dalam suhu kurang lebih 60 derajat Celsius. Kalau lebih atau kurang, rasa manis susu akan hilang. Kopinya harus disajikan dalam suhu 90 derajat Celsius. ”Menjaga suhu itu yang susah. Maka, saya tidak menjual sajian kopi dengan latte art 3D,” papar alumnus SMAN 1 Pasuruan tersebut.
Bagi orang awam, standar itu mungkin tidak penting. Namun, Yohan termasuk orang yang perfeksionis. Dia ingin segala sesuatu, terutama terkait kopi, harus sesuai standar internasional. Apalagi, menurut dia, bagi pencinta kopi, standar itu sangat penting. ”Di dunia kopi tidak ada yang salah. Lain kopi, lain masakan. Lain lidah, lain selera. Perbedaannya hanya terdapat di profil roasting,” ungkap Yohan.
Dia punya prinsip, ilmu yang dimiliki harus dikembangkan. Caranya berbagi dengan orang lain. Di kafenya, Yohan membuka kelas privat bagi siapa pun yang ingin belajar segala hal tentang kopi. Ada tiga modul yang disampaikan dalam kelas. Mulai dasar, menengah, hingga susah. Setiap modul dapat diselesaikan selama dua hari. Setiap pertemuan membutuhkan waktu empat jam. ”Muridnya bebas. Yang penting, minimal lima orang untuk mulai buka kelas,” katanya.
Sudah memiliki usaha sesuai hobi, Yohan masih memiliki misi lain. Yakni, ”mengopikan” Surabaya. ”Saya ingin mayoritas warga Surabaya memiliki budaya minum kopi. Ini merupakan salah satu usaha melestarikan kekayaan bangsa. Indonesia kan salah satu negara penghasil kopi terbesar dunia,” ujar Yohan.

Sunday, March 8, 2015

EVAN SPIEGEL USIA 24 TH MEMILIKI HARTA Rp 18 TRILIUN BERKAT SNAPCHAT



Jakarta -Evan Spiegel adalah CEO Snapchat, sebuah aplikasi pesan foto yang didirikan bersama temannya, Bobby Murphy di 2011. Pendirian aplikasi ini dimulai saat Spiegel menjalani kuliah desain produk di Stanford University pada 2011 lalu. Di kampus, Spiegel bertemu dengan Murphy yang 2 tahun di atas dia.

Dari pertemuan ini, keduanya mengembangkan sebuah aplikasi, yang bisa digunakan untuk mengirim pesan foto lewat telepon pintar, yang awalnya bernama Picaboo.

Kemudian, Picaboo berganti nama menjadi Snapchat dan sekarang digunakan oleh lebih dari 100 juta orang secara gratis. Di akhir 2013, Spiegel yang kini umurnya 24 tahun, menolak tawaran dari Facebook senilai US$ 3 miliar untuk pembelian Snapchat.

Dilansir dari Forbes, Jumat (6/3/205), pada Februari 2015, Snapchat nilainya mencapai US$ 19 miliar atau sekitar Rp 228 triliun. Fantastis!

Menurut perhitungan Forbes, Spiegel dan Murphy masing-masing memiliki saham setidaknya 15% di Snapchat. Jumlah kekayaan Spiegel diperkirakan Forbes sebesar US$ 1,5 miliar, atau sekitar Rp 18 triliun. Spigel menempati posisi nomor 1.250 orang terkaya dunia.

Pria ini menjadi miliuner paling muda sejagat raya. Kekayaan itu dia dapat bukan karena warisan orangtuanya, tapi karena usaha yang dilakukannya dari nol.

Sementara Bobby Murphy yang menjadi tandem Spiegel, menjadi miliuner paling muda nomor 2 sejagat raya. Kekayaan Murphy sama nilainya, yaitu US$ 1,5 miliar.

Thursday, November 15, 2012

Nazwa Sukses Jadi Juragan Kue


juragan_kue
Bisnis makanan cukup banyak menelurkan kisah sukses. Salah satunya adalah kisah sukses Nazliana Lubis, pemilik usaha aneka kue di Medan, Sumatra Utara. Berkat ketekunan dan kerja keras, dia berhasil membesarkan toko kue Nazwa Aneka Kue hingga menghasilkan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Salah satu kue khas yang diolahnya dan menjadi terkenal adalah cake pisang yang diberi nama Blondi Pisang Barangan.

Toko kue milik Nazliana atau yang kerap disapa Nazwa yang terletak di Jl. Kapten Muchtar Basri No. 110, Medan itu cukup kondang di Sumatra Utara. Beberapa hotel berbintang di Medan sudah menjadi pelanggan tetap, seperti Hotel JW Marriot, Hotel Ina Dharmadeli, Hotel Tiara, Hotel Danau Toba, dan Madani Hotel.

Hotel-hotel memesan kue Nazwa sedikitnya sebanyak 600 potong sekali event. “Padahal, saban hari, satu hotel bisa menyelenggarakan sampai tiga kali event,” jelasnya. Bukan hanya hotel, Nazwa juga rutin mendapat pesanan dari beberapa bank, perusahaan swasta, sekolah, dan instansi pemerintah di Sumatra Utara. “Sekarang bisa menghabiskan 3.000 telur dan 8 karung tepung atau sekitar 200 kilogram (kg) tepung per hari,” kata wanita berkerudung ini. Selain kue dia juga menerima pesanan nasi boks. Perusahaan atau pemda biasa memesan 1.000 hingga 1.800 nasi boks.

Sebelum menjadi juragan kue, lulusan D3 Pariwisata Universitas Sumatra Utara tahun 1989 ini sempat bekerja di bagian ticketing di sebuah biro perjalanan selama tiga tahun. Tahun 1991, dia pindah ke perusahaan maskapai penerbangan Simpati. Jabatan terakhirnya, supervisor. “Kerja di perusahaan penerbangan itu memiliki gengsi tersendiri. Saya punya kesempatan untuk jalan-jalan ke berbagai daerah,” kata perempuan kelahiran Medan, 23 Januari 1965 ini.

Sayangnya, kebanggaannya bekerja di industri penerbangan harus berakhir. Nazwa kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena Simpati tak beroperasi lagi mulai tahun 1997. “Saya sempat stres dan labil, malu sama teman-teman dan lingkungan,” ujarnya.

Selama enam bulan, Nazwa depresi. Akhirnya, dia menemukan semangat setelah mengamati lingkungan rumahnya yang berdekatan dengan kampus Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara. “Saya perhatikan, kok di kawasan kampus tidak ada yang jual jajanan berat semacam kue. Saya pun terpikir untuk buka usaha kue,” kenangnya.

Nazwa mulai mengulak-alik aneka buku resep masakan untuk mencari dan belajar mengolah aneka kue. Maklum, dia tidak punya keahlian memasak sehingga mengandalkan buku resep. “Saya pilih jualan donat sebab proses pembuatan lebih mudah ketimbang membuat kue yang lain dan di sekeliling kampus belum ada yang jualan donat,” ujar istri dari Fadlin ini.

Pada Juli 1997, Nazwa nekat jualan donat bermodal dana kurang dari Rp 100.000. Kala itu, dia menjual sepotong donat seharga Rp 350. “Omzetnya baru Rp 70.000 per hari. Rasa dan bentuk donatnya pun belum konsisten karena saya
masih belajar membuatnya,” katanya sambil tertawa.

Nazwa terus mengasah kemampuan membuat kue. Dia mengikuti aneka kursus pembuatan kue di Medan hingga Bandung. Karena usaha kue itu belum menghasilkan pendapatan besar, Nazwa menerima tawaran mengajar mahasiswa D3 dan D1 Pariwisata di salah satu perguruan tinggi di Medan. Dia mengajar mata kuliah pelayanan di perusahaan penerbangan.

Setengah tahun berjalan, penjualan usaha toko kue Nazwa belum meningkat. Justru lebih sering merugi lantaran saat itu terjadi krisis moneter tahun 1998. “Saya tidak menghentikan usaha ini meski rugi. Ini demi eksistensi usaha,” katanya.

Bayaran tak pasti

Nazwa mulai berani menitipkan kuenya di toko-toko kue. Dari sini, produksi dan omzet mulai berkembang. Tahun 2000, ia berhenti mengajar, fokus mengelola toko dan mulai mengajukan proposal penawaran ke beberapa hotel di Medan.

Pada tahun 2003, Nazwa berhasil mendapatkan pesanan dari sebuah hotel. ”Meskipun pesanan hanya bika ambon setengah loyang, 20 potong tahu isi, dan 20 potong kue lumpur, saya menerima pesanan itu,” ujarnya. Ia gigih memasok kuenya ke hotel yang memesan meskipun hanya dalam jumlah kecil. Menurut dia, yang paling penting adalah kepercayaan dari konsumennya, meskipun dia harus menerima bayaran dua bulan sekali dari hotel.

Suatu saat, hotel JW Marriot Medan memiliki acara seminar Ikatan Dokter Indonesia selama seminggu dan mengorder aneka snack ke Nazwa. Ia harus memasok 22 item jajanan pasar dengan jumlah 2.600 pieces per item. “Dari situ, pesanan besar dari hotel mulai berdatangan. Nazwa Aneka Kue mulai dikenal dan dipercaya konsumen,” jelasnya. Dia juga mulai mendapat order katering untuk pesta yang nilainya Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per klien. (*kontan.co.id)

Sunday, November 4, 2012

Menjajal Bisnis Kue Adonan Shireen Sungkar







Shireen_cake_shop
Bisnis cake shop kini mulai menjamur dan mulai banyak dilirik orang. Apalagi di kota-kota besar. Salah satu pemain baru yang menawarkan kemitraan cake shop adalah Shireen Sungkar.

Artis cantik kelahiran 1990 ini mulai membuka usaha cake shop yang diberi nama Shireen Cake Shop. Shiren memulai usaha ini sejak Januari 2012 di Bandung. Kemudian, Agustus 2012, ia mulai menawarkan kemitraan bagi masyarakat yang tertarik terjun di bisnis cake shop.

Lantaran masih baru, hingga saat ini, Shireen Cake Shop belum punya mitra. Reno Syafuddin, Executive Marketing Shireen Cake Shop, bilang, ada tiga paket investasi yang ditawarkan oleh Shireen.

Paket pertama dengan biaya investasi Rp 195 juta dengan luas ruangan 80 m² dan kapasitas 30 kursi pengunjung. Dengan estimasi omzet Rp 90 juta per bulan, mitra diperkirakan bisa balik modal setelah 21 bulan.

Paket kedua, dengan biaya investasi Rp 225 juta. Mitra harus menyiapkan ruangan seluas 100 m² yang bisa memuat sekitar 40 kursi. Dalam sebulan, mitra bakal mengantongi omzet Rp 120 juta dan bisa balik modal dalam jangka 19 bulan.

Sementara, untuk paket ketiga, mitra harus membayar biaya investasi sebesar Rp 295 juta. Yang harus disiapkan mitra ialah ruangan seluas 120 m² dan menampung 60 kursi pengunjung. Mitra diprediksi mendapatkan omzet Rp 180 juta dan balik modal dalam 16 bulan.

Dari tiap paket investasi, menurut estimasi Reno, laba bersih mencapai 30% dari omzet. Selanjutnya, mitra akan mendapatkan perlengkapan cake shop dari biaya investasi.

Sebesar 30% dari biaya itu merupakan franchise fee dan sisanya 70% merupakan investment fee yang mencakup promosi, perlengkapan cake shop, peralatan memasak, serta peralatan makan dan minum. "Tidak hanya itu, kami akan memberikan bahan baku awal dan pelatihan untuk karyawan, serta pendampingan pada mitra," tambahnya.

Shireen Cake Shop menjual beragam kue, mulai dari tiramisu, blackforest, fruit fair, mousse, dan berbagai kue tart yang bisa dikreasikan sesuai keinginan pelanggan. Kisaran harga kue yang dijual ialah Rp 12.000 per potong hingga Rp 150.000 untuk satu loyang kue.

Mitra diwajibkan membeli bahan baku kue dari pusat dengan mengeluarkan biaya sekitar 33% dari omzet. Selain itu, mitra juga harus membayar biaya royalti sebesar 5% dari omzet tiap bulannya.

Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting menilai, usaha penjualan kue masih cukup menarik dan memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Namun, calon mitra pun tetap berhati-hati karena usaha Shireen ini masih baru dan belum teruji. (*kontan.co.id)

Saturday, September 29, 2012

Marissa Mayer, Pelopor Inovasi Internet

mayerSosok perempuan di bisnis inovasi internet tidak terlalu jamak. Salah satu di antaranya Marissa Mayer. Perempuan yang pernah berkontribusi membuat Google menjadi situs mesin pencari nomor satu di dunia kini giat mengembangkan usaha Yahoo!

Sejak Juli 2012, lulusan Stanford University dengan gelar B.S untuk sistem simbolis dan M.S dalam ilmu komputer ini resmi menjabat sebagai kepala eksekutif Yahoo!. Ia menerima paket kompensasi senilai lebih US$59 juta (sekitar Rp560 miliar) selama beberapa tahun mendatang. Mayer juga menerima gaji tahunan sebesar US$1 juta. Selain itu berhak mendapatkan bonus hingga US$2 juta dan US$12 juta berupa opsi saham dan saham berbatas jual yang akan dibagi selama tiga tahun ke depan.

Yahoo! juga akan memberikan Mayer saham berbatas jual senilai US$14 juta untuk sebagian kompensasi karena dia harus kehilangan uang yang akan diterima di Google. Pembayaran ini dicicil sampai 2014, dengan US$4 juta pada tahun ini.

Mayer, 37, yang telah hengkang dari Google Inc juga akan menerima US$30 juta dalam bentuk penghargaan retensi satu kali jika tetap berada di Yahoo! selama 5 tahun. Gaji Mayer dan bonus maksimal tahun ini akan mencapai US$1,4 juta.

Posisi dan bayaran yang didapatnya sangat sepadan. Pasalnya pengalaman Mayer di bidang teknologi sangat gemilang. Hal itu terbukti akan kontribusinya selama 13 tahun menjadikan Google situs mesin pencari nomor satu dunia. Ia juga memegang peran kunci inovasi produk Google lainnya seperti Gmail. Google Maps, Google Earth, Google Images, Google News, Google Books, Google Product Search, Google Toolbar, iGoogle.

"Dia telah menjadi motor penggerak dalam ketajaman kreativitas dan bisnis di salah satu perusahaan paling inovatif di dunia. Marissa Mayer memimpin langkah untuk mempertahankan Amerika di posisi pertama," ujar juru bicara Dewan Perwakilan AS, Nancy Pelosi.

Setelah beberapa bulan menyandang jabatan tertinggi di Yahoo!, perempuan yang lahir pada 30 May 1975 ini mulai melakukan inovasi besar-besaran. Karyawan Yahoo! bisa dibilang sangat beruntung. Pasalnya Mayer menawarkan berbagai merk ponsel pintar canggih yang bisa dipilih oleh anak buahnya secara gratis. Mereka dapat memilih beberapa merk ponsel pintar ternama seperti Apple, Samsung, Nokia, dan HTC.

Yahoo! juga tak membatasi pilihan para karyawan, entah itu smartphone terbaru seperti iPhone 5, Galaxy S3, HTC One X, HTC EVO 4G LTE, maupun smartphone Windows Phone 8 yang belum dirilis, Nokia Lumia 920. Para karyawan tak perlu khawatir soal biaya, karena Mayer berjanji bahwa perusahaan akan menanggung semuanya, termasuk tagihan pulsa.

Yang menarik, dari beberapa smartphone canggih tersebut, Yahoo! tidak menyediakan produk buatan RIM, BlackBerry. Padahal, merek lain yang tersedia sudah mewakili sistem operasi yang populer saat ini, yakni iOS, Android, dan Windows Phone.

"Kami memiliki kabar menarik untuk berbagi dengan Anda semua. Kami mengumumkan Yahoo! Smart Phones, Smart Fun yang akan digunakan semua user di perusahaan. Rencana itu berdasarkan tingkat penetrasi ponsel pintar secara global. Idealnya kami ingin semua karyawan memiliki perangkat yang dapat berpikir dan bekerja. Untuk itu perangkat Blackberry yang biasa dipergunakan akan di non aktifkan," tulis Mayer pada sebuah memo yang ditujukan ke Yahoo!, baru-baru ini. (*/mediaindonesia.com)

Thursday, September 20, 2012

Bisnis Permen Maria Sharapova

Petenis cantik asal Rusia, Maria Sharapova, melebarkan sayapnya di industri makanan. Pengoleksi empat gelar grand slam ini meluncurkan produk permen dengan merek Sugarpova.

Sharapova mengungkapkan, ini adalah proyek luar biasa yang pernah dibuatnya. "Karena ini merupakan usaha, investasi, dan uang saya sendiri," kata petenis bernama lengkap Maria Yuryevna Sharapova itu seperti dilansir Tempo.co, baru-baru.

Sugarpova mempunyai 12 jenis permen. Dan Sharapova memberikan nama-nama lucu pada ke-12 makanan manis tersebut, seperti Flirty, Cheeky, Sporty, serta Chic. Produk ini akan dijual di toko It''Sugar yang mempunyai 40 cabang di dunia.

Sharapova mengatakan dia membutuhkan waktu hingga 18 bulan, mulai dari memikirkan konsep sampai meluncurkan Sugarpova. "Ini rasanya seperti sudah mengandung dua kali," tutur istri dari pemain basket Sasha Vujacic itu dengan nada bercanda.

Sebagian dari hasil penjualan Sugarpova akan disisihkan untuk Maria Sharapova Foundation. Lalu, uang tersebut bakal diberikan kepada para pelajar di wilayah Belarus yang terkena radiasi dari ledakan reaktor nuklir Chernobyl pada 1986 lalu.

Tuesday, September 18, 2012

Kue Rumahan Ira menjadi Bisnis yang Sukses

Bisnis tak jarang bermula dari aktivitas rutin di rumah sehari-hari. Seperti yang dialami Ira Dwijanti. Kegemaran dan hobbinya membuat kue sendiri ternyata memberinya ide dan keberanian untuk memulai usaha sendiri. Tentu cukup mengagetkan jika kita tahu bahwa Ira sebelumnya adalah seorang sekretaris di sebuah perusahaan holding company yang cukup besar. Keinginan untuk bisa meluangkan waktu lebih banyak bersama ketiga putra-putrinya memantapkan Ira melepaskan jabatannya sebagai sekretaris dan memulai usaha sendiri. Ira memilih bisnis kue rumahan sebagai usaha yang digelutinya. Ira mengaku tak banyak berfikir panjang ketika memulai usaha, baginya yang penting ia bisa berkumpul bersama keluarga tercinta.

Ira mengaku memulai usahanya dengan modal RP 5 juta yang sebagian besarnya adalah untuk membeli peralatan dan sisanya untuk membeli bahan pembuatan kue.

Awalnya usaha kue rumahan Ira hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, mulai dari teman sekantornya dahulu, saudara, serta tetangganya. Tak disangka usaha kue rumahan Ira berkembang pesat hingga dalam waktu 2-3 bulan Ira sudah kembali modal. Sejak itulah Ira memutuskan untuk lebih serius menekuni bisnis kue rumahan miliknya, maka Ira-pun memutuskan menyewa sebuah kios di kawasan Mampang, Jakarta Selatan dan memberi nama produk bisnis kue rumahan-nya dengan nama “Ach O Met”.

Ira menuturkan, setiap bulan dari kios kecilnya ia mampu meraup omzet tak kurang dari Rp 10juta dengan tingkat keuntungan 30-40%. Kini Ira terus belajar untuk lebih mengembangkan bisnis kue rumahannya, ia melihat potensi bisnis kue rumahan ternyata luar biasa besar. (*/Tempo.co)

Thursday, September 6, 2012

Arnold Sebastian Egg, Sang Pendiri Tokobagus.com

arnoldtkbagus Bagi yang gemar belanja online, tentu nama Tokobagus.com bukanlah nama yang asing di telinga. Tapi bila menyebut nama Arnold Sebastian Egg pasti belum banyak yang kenal dengan pria tersebut. Padahal dialah pendiri Tokobagus.com di Indonesia.

Arnold adalah pria Belanda yang sukses berbisnis jual beli online di Indonesia. Pria ekspatriat itu pertama kali datang ke Indonesia pada awal Januari 2000. Saat itu ia bukanlah siapa-siapa melainkan hanyalah seorang pengusaha muda yang tanggung dan baru saja lulus kuliah di Belanda.

Walau demikian, Arnold sudah bermimpi bahwa jika ingin sukses berbisnis, mulailah dari Indonesia? Lho kenapa begitu? Sebab menurutnya Indonesia itu pasar yang sangat potensial. Apalagi kalau ingin berbisnis di Eropa teramat sulit mengingat di Eropa banyak sekali perusahaan besar sehingga persaingan bakal semakin ketat.

"Oleh karena itu saya pun memiliki semboyan Indonesian Dream. Lewat semboyan itu, saya ingin membuktikan bahwa di sini ada 'Indonesian Dream'. Saya datang ke sini kosong, sekarang menjadi seseorang," ungkapnya.

Dengan semboyan itulah ia mantap ke Indonesia meski Mexico juga sempat menjadi tujuan bisnisnya. Arno, demikian sapaannya, akhirnya mendarat di Bali.

Di Pulau Dewata, Arno kemudian mengasah insting bisnisnya yang sudah ia dapatkan sejak kecil. Maklumlah Arno dibesarkan dalam keluarga besar pengusaha di Belanda. Ia pun melihat peluang bisnis e-commerce. "Di Belanda saya sudah berbisnis e-commerce sekarang saya mencobanya di Indonesia," katanya.

Keyakinan berbisnis secara online itu pun dimulai. Melalui bendera PT Isya Jaya, ia membangun kerajaan bisnisnya tepat setelah bom Bali I meletus. Saat itu Arno belum aktif berjualan melainkan hanya menawarkan jasa pembuatan situs e-commerce.

"Pasar yang di bidik kala itu Bali dan Malang. Indonesia tak seseram yang digambarkan media asing. Asalkan kita memenuhi semua aturan dan jujur berusaha, jalannya dimudahkan pemerintah," kata dia.

Di tahun 2005, barulah Arno berani memulai bisnis jual beli secara online. Ia pun menyiapkan konsep mengenai Tokobagus.com. Darisanalah ia kemudian mewujudkan konsep tersebut meskipun kondisi infrastruktur saat itu masih belum mendukung. "Untuk bertahan kami masih tetap menawarkan jasa pembuatan situs e-commerce kepada korporat," katanya.

Setelah berjuang selama tiga tahun, barulah di tahun 2008 Arno mendapat investor baru yang mau bermitra dengannya. Bersama dengan mitranya tersebut, tepat di tahun yang sama ia hijrah ke Jakarta dan mendirikan PT Tokobagus. Pertimbangan hijrah ke Jakarta itu karena agar lebih dekat kepada pelanggan dan sumber daya manusia demi pengembangan situs tersebut.

Lambat laun perkembangan bisnis Tokobagus semakin moncer. Situs tersebut menjadi pemain nomor satu di e-commerce untuk segmen classified ad. Transaksi yang berhasil dikelola setiap bulan mencapai Rp 1,6 triliun. Sedangkan jumlah pengunjungnya mencapai 600 ribu orang setiap hari. Adapun omzet Tokobagus lebih banyak berasal dari pemasang iklan terutama dari korporasi atau promotion service.

Arno sadar betul bahwa reputasi Tokobagus harus tetap baik di masyarakat. Sebab bila dalam transaksi ada yang bermasalah maka akan muncul kasus penipuan. "Untuk itu sejak 1 Mei lalu diterapkan prosedur pre-moderasi di mana setiap postingan iklan difilterisasi dengan verifikasi harga, barang, dan pemasangnya. Dengan demikian orang merasa aman bertransaksi, itu salah satu motto Tokobagus," jelas dia. (asm)

Thursday, March 1, 2012

Kisah Pebisnis Legal Pertama di China

Tiga puluh satu tahun lalu, Zhang Hua Mei menjadi warga China pertama yang meraih izin berbisnis dari rezim komunis yang berkuasa. Dari izin tersebut, dia pun disebut sebagai pengusaha pertama yang legal di China.
Tiga puluh satu tahun lalu, Zhang Hua Mei menjadi warga China pertama yang meraih izin berbisnis dari rezim komunis yang berkuasa. Dari izin tersebut, dia pun disebut sebagai pengusaha pertama yang legal di China.

“Dulu, Pemerintah China tidak mengizinkan kita untuk berbisnis. Di sini di Wenzhou, China, kantor pemerintah akan bertindak keras untuk menutup perusahaan atau bisnis yang ilegal,”katanya kepada BBC. “Saya harus berhati-hati!” ujar Zhang. Setelah kesuksesan Zhang meraih izin, pada 1980-an sekitar 1.843 pebisnis mendapatkan hak yang sama dari Pemerintah China.

Kini, puluhan juta orang China mendapatkan akses bisnis dengan mudah. Harus diakui,jika dulu Zhang tidak mengajukan izin berbisnis, ekonomi China tidak akan bangkit seperti sekarang ini. Media-media pun menyebut Zhang sebagai pelopor pengusaha legal di China. Zhang mengajukan izin untuk mendirikan bisnis saat menginjak usia 19 tahun. Tepat 30 November 1979, dia memperoleh izin resmi berdagang. Ketika itu,Pemerintah China mengeluarkan kebijakan reformasi dan keterbukaan pada 1978. Dengan izin di tangan, dia tidak takut polisi dan militer berseliweran di depan rumahnya. Maklum, dia tinggal di negara komunis di mana kebebasan dan kemerdekaan berpendapat sangat dikekang.

“Awalnya, saya tidak mengetahui bahwa saya merupakan orang yang pertama kali mendapatkan izin bisnis di China hingga kemudian, pada 2004, ada televisi lokal yang ingin mewawancarai saya,” katanya kepada crienglish. Perempuan yang selalu ramah itu mengungkapkan bahwa dirinya membuka bisnis karena tidak memiliki pilihan lain. Dia mengaku berlatar keluarga miskin dan setelah lulus SMP dia tidak bisa langsung mendapat pekerjaan,sementara teman-temannya bisa bekerja di perusahaan milik pemerintah. Parahnya, Zhang mengaku sempat stres karena tidak mengetahui apa yang harus dilakukan hingga sang ayah menyarankan Zhang untuk membuka bisnis kecil-kecilan. Zhang mengaku usahanya pertama kali adalah menjual jam mainan di jalanan. Awalnya, dia takut dan khawatir pemerintah lokal datang ke rumah dan membubarkan aktivitas dagangnya.

Dari pengalamannya bepergian ke Shanghai untuk membeli mainan, dia kemudian beralih ke bisnis kancing. Dia berpikir semua pakaian membutuhkan kancing dan selama dunia belum kiamat,manusia akan membutuhkan kancing. Nah, tiga puluh satu tahun berikutnya, Zhang menjadi miliarder dari bisnis kancing baju. Dia tidak lagi berposisi sebagai pedagang, tapi mempunyai pabrik sendiri. Kancing baju yang diproduksinya diekspor ke berbagai belahan dunia. Jangan-jangan, kancing baju yang dipakai Anda pun disuplai dari perusahaan aksesori garmen Huamei yang dimiliki Zhang. Kini, Zhang tentu tidak lagi duduk dan menunggu meja yang dipenuhi aneka ragam kancing seperti 30 tahun lalu. Sekarang, dia lebih banyak duduk di belakang meja di kantornya untuk mengatur transaksi bisnis ke berbagai belahan dunia.

Dia pun kerap berpakaian seksi dengan sepatu berhak tinggi di usia yang telah separuh abad. “Saya tidak berpikir akan mengelola perusahaan besar,” paparnya. Melalui perusahaan aksesori garmen Huamie,menurut Zhang, dirinya menghadapi kompetisi setiap hari,mulai dari model kancing, bahan hingga pergeseran pasar. “Semua bisnis masa sulitnya adalah ketika mengawali. Kita harus mengorbankan waktu tidur dan bersenang-senang terlebih dahulu,” paparnya. Nah, kini, kata dia, saatnya bersenang-senang dan menikmati jerih payah dulu. Zhang pribadi mengaku gembira melihat perkembangan bisnis di negaranya.

Ia senang ketika makin banyak kesempatan bagi warga China untuk menciptakan terobosan dalam kehidupan.Baginya, terobosan yang paling tepat adalah membuka ladang usaha, apa pun bentuknya. (Sindo) “Dulu, Pemerintah China tidak mengizinkan kita untuk berbisnis. Di sini di Wenzhou, China, kantor pemerintah akan bertindak keras untuk menutup perusahaan atau bisnis yang ilegal,”katanya kepada BBC. “Saya harus berhati-hati!” ujar Zhang. Setelah kesuksesan Zhang meraih izin, pada 1980-an sekitar 1.843 pebisnis mendapatkan hak yang sama dari Pemerintah China.

Kini, puluhan juta orang China mendapatkan akses bisnis dengan mudah. Harus diakui,jika dulu Zhang tidak mengajukan izin berbisnis, ekonomi China tidak akan bangkit seperti sekarang ini. Media-media pun menyebut Zhang sebagai pelopor pengusaha legal di China. Zhang mengajukan izin untuk mendirikan bisnis saat menginjak usia 19 tahun. Tepat 30 November 1979, dia memperoleh izin resmi berdagang. Ketika itu,Pemerintah China mengeluarkan kebijakan reformasi dan keterbukaan pada 1978. Dengan izin di tangan, dia tidak takut polisi dan militer berseliweran di depan rumahnya. Maklum, dia tinggal di negara komunis di mana kebebasan dan kemerdekaan berpendapat sangat dikekang.

“Awalnya, saya tidak mengetahui bahwa saya merupakan orang yang pertama kali mendapatkan izin bisnis di China hingga kemudian, pada 2004, ada televisi lokal yang ingin mewawancarai saya,” katanya kepada crienglish. Perempuan yang selalu ramah itu mengungkapkan bahwa dirinya membuka bisnis karena tidak memiliki pilihan lain. Dia mengaku berlatar keluarga miskin dan setelah lulus SMP dia tidak bisa langsung mendapat pekerjaan,sementara teman-temannya bisa bekerja di perusahaan milik pemerintah. Parahnya, Zhang mengaku sempat stres karena tidak mengetahui apa yang harus dilakukan hingga sang ayah menyarankan Zhang untuk membuka bisnis kecil-kecilan. Zhang mengaku usahanya pertama kali adalah menjual jam mainan di jalanan. Awalnya, dia takut dan khawatir pemerintah lokal datang ke rumah dan membubarkan aktivitas dagangnya.

Dari pengalamannya bepergian ke Shanghai untuk membeli mainan, dia kemudian beralih ke bisnis kancing. Dia berpikir semua pakaian membutuhkan kancing dan selama dunia belum kiamat,manusia akan membutuhkan kancing. Nah, tiga puluh satu tahun berikutnya, Zhang menjadi miliarder dari bisnis kancing baju. Dia tidak lagi berposisi sebagai pedagang, tapi mempunyai pabrik sendiri. Kancing baju yang diproduksinya diekspor ke berbagai belahan dunia. Jangan-jangan, kancing baju yang dipakai Anda pun disuplai dari perusahaan aksesori garmen Huamei yang dimiliki Zhang. Kini, Zhang tentu tidak lagi duduk dan menunggu meja yang dipenuhi aneka ragam kancing seperti 30 tahun lalu. Sekarang, dia lebih banyak duduk di belakang meja di kantornya untuk mengatur transaksi bisnis ke berbagai belahan dunia.

Dia pun kerap berpakaian seksi dengan sepatu berhak tinggi di usia yang telah separuh abad. “Saya tidak berpikir akan mengelola perusahaan besar,” paparnya. Melalui perusahaan aksesori garmen Huamie,menurut Zhang, dirinya menghadapi kompetisi setiap hari,mulai dari model kancing, bahan hingga pergeseran pasar. “Semua bisnis masa sulitnya adalah ketika mengawali. Kita harus mengorbankan waktu tidur dan bersenang-senang terlebih dahulu,” paparnya. Nah, kini, kata dia, saatnya bersenang-senang dan menikmati jerih payah dulu. Zhang pribadi mengaku gembira melihat perkembangan bisnis di negaranya.

Ia senang ketika makin banyak kesempatan bagi warga China untuk menciptakan terobosan dalam kehidupan.Baginya, terobosan yang paling tepat adalah membuka ladang usaha, apa pun bentuknya. (Sindo)

Sunday, January 8, 2012

Matt Mullenweg, Sang Pendiri WordPress


Sejarah WordPress bermula saat Matt berusia 18 tahun (tahun 2002). Ketika itu, Matt baru mulai menggunakan fasilitas blog b2cafelog. Ia menggunakan blog b2 (bbpress.org) untuk mempublikasi foto-fotonya selama perjalanan ke Washington D.C. Namun, beberapa bulan kemudian, blog bbpress tempat Matt mempublikasi fotonya berhenti dalam mengembangkan software-nya.

Karena kondisi seperti itu, muncullah pemikiran kreatif dari Matt. Pada Januari 2003, Matt Mullenweg mengumumkan melalui blog-nya bahwa dia akan mengembangkan blog b2 sehingga sesuai dengan standar web saat itu.

Dengan inisiatif sendiri, Matt bersama Mike Little mulai memgembangkan coding WordPress berbasis b2. Kemudian, Mike dan Matt bersama Michel Valdrighi (mantan pengembang b2), mulai aktif mengembangkan WordPress hingga lahirlah WordPress yang Anda kenal saat ini. Pada 27 Mei 2003, WordPress versi 0.70 dirilis. Versi 0.7 ini masih mengandung struktur file yang sama dengan pendahulunya, b2cafelog.

Di usia 19 tahun (Maret 2003), Matt bersama rekannya mendirikan GMPG dengan format yang lebih kompleks dari HTML. Setahun kemudian, WordPress meluncurkan fasilitas Ping-O-Matic yang berguna untuk mengirim ping notifikasi kepada search engine blog seperti Technorati. Dan saat ini, Ping-O-Matic telah melayani lebih 1 juta ping tiap harinya.
Walau Matt merupakan mahasiswa Drop Out (DO) dari kampusnya, ia berhasil menjadi pengusaha muda yang kaya dan sukses.

 Pada tahun 2007, Ia pun dinobatkan sebagai 16 dari “50 Orang Terpenting di Dunia Internet” oleh PC World. Dan pada pertengahan Januari 2009, Matt berkunjung ke Indonesia dalam rangka menghadiri sekaligus menjadi tamu utama dalam acara Wordcamp Indonesia 2009 - “1st Annual Conference for Indonesian WordPress Enthusiasts”.

Matthew Charles Mullenweg atau dikenal dengan Matt Mullenweg lahir pada 11 Januari 1984, di Houston, Texas, Amerika Serikat. Di masa SMA, Matt belajar Seni Visual dan Pertunjukan di sekolahnya serta ia mahir di musik saxophone. Meskipun studinya bukan dibidang teknologi komputer dan programming, namun Mat berhasil mendirikan serta mengembangkan software yang kini sangat terkenal yakni WordPress.com, Akismet, dan bisnis Automattic-nya.

Sejarah WordPress bermula saat Matt berusia 18 tahun, tepatnya tahun 2002. Ketika itu, Matt baru mulai menggunakan fasilitas blog yakni blog b2cafelog. Ia menggunakan blog b2 (bbpress.org) untuk mempublikasi foto-fotonya selama perjalanan ke Washington D.C.

Namun, beberapa bulan kemudian, blog bbpress tempat Matt mempublikasi fotonya berhenti dalam mengembangkan software-nya. Karena kondisi seperti itu, muncullah pemikiran kreatif dari Matt. Pada Januari 2003, Matt Mullenweg mengumumkan melalui blog-nya bahwa dia akan mengembangkan blog b2 sehingga sesuai dengan standar web saat itu.

Dengan inisiatif sendiri, Matt bersama Mike Little mulai memgembangkan coding WordPress berbasis b2. Kemudian, Mike dan Matt bersama Michel Valdrighi (mantan pengembang b2), mulai aktif mengembangkan WordPress hingga lahirlah WordPress yang Anda kenal saat ini. Pada 27 Mei 2003, WordPress versi 0.70 dirilis. Versi 0.7 ini masih mengandung struktur file yang sama dengan pendahulunya, b2cafelog.

Di usia 19 tahun (Maret 2003), Matt bersama rekannya mendirikan GMPG dengan format yang lebih kompleks dari HTML. Setahun kemudian, WordPress meluncurkan fasilitas Ping-O-Matic yang berguna untuk mengirim ping notifikasi kepada search engine blog seperti Technorati. Dan saat ini, Ping-O-Matic telah melayani lebih 1 juta ping tiap harinya.

Pada tahun 2004, nasib buruk menimpa Matt dalam bidang pendidikan formal. Ia drop-out alias DO dan pindah dari Houston ke San Fransisco (California) untuk bekerja pada CNET selama setahun.

Pekerjaannya di CNET selama setahun merupakan masa-masa terakhir Matt bekerja di perusahaan. Karena pada usia 21 tahun, Matt telah ‘pensiun muda’ dari perusahaan CNET dan ia menghabiskan waktunya berkarya untuk WordPress. Tidak lama dari masa pensiunnya, ia pun berhasil meluncurkan aplikasi Akismet yang berfungsi memblokir komentar dan trackback yang teridentifikasi sebagai spam.

Di tahun yang sama, Matthew memutuskan WordPress terbuka bagi kalangan umum di seluruh dunia pada November 2005. Di tahun yang sama, Matt meluncurkan Automattic yang menjadi perusahaan bisnis yang mendukung WordPress dan Akismet.

Jiwa entrepreneur dan kematangan Matt dalam mengembangkan WordPress dan Akismet telah menghantarkan usahanya masuk ke bisnis profesional. Pada tahun 2006 (22 tahun), pemuda Matt mampu merekrut mantan CEO Oddpost dan Senior Manager Yahoo!, Tony Schneider sebagai CEO Automattic. Beberapa bulan setelah Tony Schneider berada di Automattic, Akismet (anak perusahaan) yang baru berusia kurang dua tahun berhasil meraup USD 1.1 juta pada April 2006.

Daya pikir inovatif serta pantang menyerah pada diri seorang Matthew telah membawa dirinya sebagai jutawan muda. Di usia 25 tahun, Matthew Mullenweg telah berhasil menjadi miliader muda dengan kekayaan tidak kurang USD 40 juta (Rp 400 miliar).

Ia pun dinobatkan sebagai 16 dari “50 Orang Terpenting di Dunia Internet” oleh PC World pada tahun 2007. Dari daftar 50 orang tersebut, hanya Matt yang merupakan orang termuda (23 tahun).

Dengan fasilitas yang unik, cepat dan menarik, WordPress berhasil ‘memikat’ jutaan pengguna. Dengan tambahan ribuan blogger serta ratusan ribu posting terbaru tiap harinya, WordPress berhasil masuk ke dalam 30 situs teraktif di dunia. Setelah mendapat layanan Gravatar pada tahun 2007, beredar isu bahwa usaha yang didirikan Matt, Automattic, ditawari hingga USD 200 juta, namun Matt menolak menjualnya.