Ayah
Sarah, Paul Buckel, merupakan pemimpin perusahaan yang dikenal dengan
nama Magna Card. Perusahaan ini memulai memproduksi kartu nama
bermagnet, dan kemudian memperluas usahanya ke produk lain seperti pita
magnetik dan penghapus memo magnetik. Di mata Paul, produk-produk yang
dihasilkan perusahaannya sudah mulai ketinggalan zaman. Pendapatnya pun
diamini beberapa jaringan toko besar yang menjual magnet dari MagnaCard.
Dia menyadari perusahaannya melakukan terobosan dengan menampilkan
produk baru yang lebih segar. “Kami adalah perusahaan kecil yang rapi
dengan produk-produk yang membosankan. Apabila kami tidak melakukan
sesuatu dengan segera, kami akan kehilangan pelanggan,” katanya.Pada saat yang sama, untuk menghias loker barunya di Sekolah Menengah Atas DuBois dan melihat pengalamannya di sekolah sebelumnya, Sarah meminta ayahnya untuk membuatkan semacam kertas dinding magnetik. Para desainer perusahaan yang diminta merancang produk tersebut, tidak begitu yakin.
Pada awalnya, mereka tidak bisa mengetahui bagaimana untuk memproduksi kertas dinding di bawah 29,99 dolar AS per gulung. Beberapa bulan kemudian, mereka berhasil membuat kertas dinding dengan harga 9,99 dolar AS. Sarah, yang tertarik untuk berkarier dalam bidang desain interior dan merencanakan melanjutkan kuliahnya di sekolah seni, membantu mendesain pola kertas dinding yang dinilai dapat menarik bagi gadis sekolah menengah pertama. Dia menyarankan pola kamuflase merah muda yang populer di tim pemandu soraknya dan memveto sejumlah ide dari kalangan profesional seperti pola tengkorak mini.
Dia juga meminta ayahnya agar rancangan tersebut tetap berada pilihan untuk gadis-gadis praremaja dan remaja. Pasalnya, sang ayah membuat contoh loker untuk ditunjukkan kepada pembeli dengan potongan majalah yang bergambar aktor Nicolas Cage. Sarah memprotes ide ayahnya tersebut. Layakkah Nicolas Cage yang berusia di atas 40 menghiasi loker gadis remaja? Akhirnya pada contoh kertas loker di rumahnya, dia menunjuk gambar Jones Brother, yang dianggapnya lebih sesuai dengan usia remaja. Ternyata pembeli menyukai ide kertas dinding loker tersebut.
Produk tersebut kemudian ditempatkan di sejumlah jaringan toko besar seperti Target, Staples, Rite Aid, dan menghasilkan lebih dari 1 juta dolar AS. ”Ekonomi memang memburuk saat ini. Sejumlah kawan bahkan kehilangan bisnisnya tapi kami mampu menjual di atas satu juta,” kata Paul.
Mereka menjual enam pola kertas dinding yang berbeda, dari motif bunga-bungaan ke motif titik sampai jejak harimau. Tidak hanya itu MagnaCard kemudian membuat sejumlah aksesori tambahan untuk loker, dari magnet bentuk hati sampai hiasan kata-kata seperti “laugh” dan “dream”.
Tak puas dengan itu, Sarah dan ayahnya kembali berinovasi dengan merancang sebuah kit untuk mendekorasi loker khusus untuk edisi ulang tahun, dan Paul juga mengembangkan produk baru dengan menggunakan kertas bermuatan listrik untuk kamar asrama dekorasi dan ruang lainnya. Dari uang hasil hak paten tersebut, mereka pun memutuskan untuk membeli perusahaan MagnaCard. (*/Koran Sindo)
Oink-a-Saurus
merupakan aplikasi bagi iPhone dan iPad untuk mengajar anak-anak
tentang keuangan, manajemen uang, investasi, dan pasar modal. Permainan
ini memiliki simulator “bagaimana jika”, untuk menunjukkan apa yang
dapat kita simpan jika tidak membelanjakan sejumlah uang. Oink-a-Saurus
juga memiliki fitur jejaring sosial yang memperlihatkan saham apa atau
ide-ide dari anak-anak yang lain. Selain dilengkapi juga layanan berita
pasar saham yang mudah dipahami anak-anak, informasi investasi serta
hubungan ke broker saham.
Kondisi
inilah yang menginspirasi Kathryn KK Gregory yang pada 1994 saat
berusia 10 tahun menciptakan wristies, sarung tangan tanpa jari. Meski
tanpa jari, sarung tangan ini tetap bisa berfungsi untuk menjaga
pergelangan tetap hangat dan jari-jari tetap bebas bergerak. Bagaimana
wristies tercipta? Setelah badai salju New England, KK bermain di
halaman rumahnya membangun sebuah benteng salju bersama adiknya. Meski
sudah mengenakan pakaian musim dingin, KK merasa frustrasi karena salju
terus jatuh di atas lengan mantelnya.
Adalah Rozaq Adi Sagoro, seorang siswa kelas 2 dari SLTPN 4 Bogor, yang membuat browser sendiri yang bernama BlackCat. "Browser ini saya buat dua pekan sebelum pameran INAICTA 2011," ujar Rozaq seperti dikutip dari okezone.
Pemilik nama lengkap Abhimantra Ilham Suryomurtjito ini menyalurkan jiwa entrepreneur-nya sebagai seorang reseller
toko online yang menawarkan aneka jenis produk, mulai dari jasa sampai
furnitur. Debut pertama berbisnis bermula pada tanggal 7 Juni 2010 saat
dirinya hendak menjual handphone bekasnya di sebuah toko online TokoBagus.com.